Falsafah PSHT

Manusia dapat dihancurkan, Manusia dapat dimatikan,
tetapi manusia tidak dapat dikalahkan selama manusia itu
masih Setia kepada dirinya sendiri atau ber-SH pada dirinya sendiri

Rabu, 12 April 2017

Persaudaraan Tunggal Banyu

Dalam tradisi masyarakat Jawa, kita mengenal beberapa istilah SEDULUR (Saudara), antara lain :

- Sedulur tunggal ibu bapak (saudara kandung).
- Keponakan (kemenakan).
- Sedulur temu gedhe.
- Sedulur ipe (ipar).
- Sedulur kadhang katut (saudara ipar dari adik/kakak), dan sebagainya.

Konsep PASEDULURAN (Persaudaraan) ini pada dasarnya terangkai dalam sistem, hukum & aturan yg berbeda22.
Sedangkan ditinjau dari sudut ETIMOLOGI ; kata “PERSAUDARAAN” berasal dari bahasa Sankrit. “Sa-udara” mendapat imbuhan “per-an”, berarti perihal bersaudara atau tentang tata cara menggolongkan ikatan yg kokoh sebagai jelmaan “sa (satu)”,” udara (perut kandungan)”. Ibarat manusia dilahirkan dari satu kandungan (perut), maka mereka harus dapat bersatu padu secara TULUS dan selalu ingat akan awal mulanya, (eling marang dalane).
Sementara jika ditinjau dari susunan kata, kata persaudaraan terdiri atas kata dasar “saudara” yang mendapat imbuhan prefik “per” dan sufik “an”. Dan jika ditinjau dari segi nosi, konflik “per-an” pd kata “persaudaraan” berarti membentuk kata tersebut menjadi sebuah kata benda “ABSTRAK”.
Artinya, persaudaraan itu sendiri adalah abstrak adanya dan hanya dapat dirasakan oleh orang yang menjalaninya. Selebihnya hanya dapat dilihat dari sikap yang ditampilkan seseorang terhadap orang lain.
Bagaimana sistem persaudaraan di SH TERATE ?
Persaudaraan di SH TERATE menganut sistem “PASEDULURAN TUNGGAL BANYU”, artinya utuh & menyatu. Banyu atau air itu ibarat selalu menyatu dan tak terpisahkan, sekalipun dibelah oleh pedang, ia akan menyatu kembali.
Meminjam dlm istilah Jawa : “Datan pinisah senadyan tinebas pedang ligan” (Tak akan terbelah walau ditebas oleh pedang).

Belajar Ilmu dari Alam

Disadari ataupun tidak, Allah SWT senantiasa memberikan banyak gambaran pada manusia lewat ciptaan-Nya. Tetapi kebanyakan manusia ‘tidak berpikir’ sehingga keberadaan alam ciptaan-Nya ini kelihatan biasa-biasa saja.

Allah SWT menjelaskan lewat kitab suci Al Qur’an yang intinya: “Berjalan-jalanlah kamu dimuka bumi. Maka kamu akan melihat kekuasaanKU”. Artinya, kita harus cerdas dan cermat dalam mengamati keberadaan alam semesta itu. Dengan begitu, kita akan bisa merasa dekat dengan Allah SWT.

Banyak sekali yang bisa kita pelajari dari alam. Kita bisa belajar tentang ilmu kesabaran, ilmu kesetiaan, ilmu kepasrahan, ilmu diam dan banyak ilmu lainnya.
Lho kok bisa? Jelas sekali. Lihatlah buktinya.

Belajar Kesabaran.
Kalau hendak belajar ilmu kesabaran, maka kita hendaknya belajar pada Bumi yang kita injak setiap harinya ini. Bayangkan, bumi ini tidak pernah mengeluh meskipun diinjak-injak ratusan juta manusia. Bumi juga tidak pernah tersinggung meskipun diludahi, dikencingi bahkan menjadi tempat buangan kotoran manusia. Ia akan dengan sabar menerima semuanya. Kesabaran apalagi yang bisa mengalahkan bumi ciptaan Allah SWT itu?.
Tapi kalau manusia berbuat semena-mena terhadap bumi, maka Sang PENCIPTA akan murka dan bumi bakal menggulung dan menimbulkan malapetaka bagi manusia itu sendiri. Contohnya, tanah longsor dan lainnya.

Belajar Kesetiaan.
Jika hendak belajar ilmu kesetiaan, tidak ada salahnya kita belajar pada matahari. Belajar dalam hal ini bukan berarti menyembah matahari. Tidak! Tetapi kita cukup melihat, merasakan dan mencontoh kesetiaan matahari yang juga ciptaan Allah SWT. Matahari adalah tempat belajar ilmu kesetiaan karena ia dengan setia senantiasa hadir dari Timur dan terbenam di Barat setiap hari.
Matahari tidak pernah ingkar janji untuk tidak terbit. Ada orang yang guyon dengan mengatakan, lha kalau mendung bagaimana? Meski mendung, matahari tetap bersinar meski tertutup mendung. Bukankah ia terus setia?

Belajar Kepasrahan dan Nerimo (Ikhlas).
Jika Anda ingin belajar ilmu kepasrahan dan nerimo (ikhlas), maka tidak ada salahnya belajar pada laut. Laut yang diciptakan Allah SWT adalah tempat mengalirnya beribu-ribu sungai di dunia ini. Kotoran apapun yang dilemparkan manusia lewat sungai, pasti akan mengalir ke laut. Dan laut akan pasrah menerima barang-barang buangan itu. Ia tidak pernah mengeluh sedikitpun.
Laut juga akan ikhlas menerima semua air, kotoran atau benda-benda apapun yang mengalir lewat sungai. Keikhlasan yang ditunjukkan oleh laut adalah keikhlasan “Lillahi Ta’ala” (semuanya karena ALLAH).

Belajar Ilmu dari Tumbuhan.
Kita juga harus belajar dari tumbuhan. Apa alasannya? Alasannya jelas, karena tumbuhan sejak dari bibit ia hidup, ia cenderung diam. Tapi tahu-tahu lama kelamaan tumbuhan itu menjadi besar dan memberi manfaat bagi si penanamnya. Bayangkan, sebuah tumbuhan saja tahu cara menghargai dan berterimakasih pada orang yang merawatnya. Sedangkan kita manusia ini yang disebut makhluk mulia oleh Allah SWT, malah terkadang tidak bisa menghargai dan berterimakasih pada Allah SWT yang telah menciptakan dan selalu merawat dan menjaga kita.

Kalau kita menghormati alam, berarti kita juga mensyukuri apa yang telah dianugerahkan Allah SWT, tapi bukan berarti kita memper"TUHAN"kan alam.

"Wallahu A'lamu Bishshowwab"

#SalamPersaudaraan

Biang Kerok Penyimpangan Moral

Terus terang saya merasa kurang cocok dengan meme "Kembalikan PMP di sekolah". Seolah-olah semenjak pelajaran PMP 'dihapus', tidak ada lagi pendidikan moral di sekolah.
Menurut saya ini pandangan yang keliru bahkan merupakan pelemahan pada institusi sekolah.

Kembalikan dulu pendidikan moral di televisi...
Kembalikan dulu pendidikan moral di setiap keluarga...
Galang kesadaran orangtua untuk lebih peduli pada anak-anaknya, bukan hanya disibukkan dengan urusan kerja...

Suruh sekolah lagi tuh para ARTIS yang dibayar mahal yang hanya bisa mempertontonkan tayangan yang merusak mental generasi muda. Mereka ini (biang kerok penyimpangan moral) yang harusnya ditatar P4 sebelum pasang aksi di layar kaca !!!

Meski PMP kembali ke sekolah, jika 'penataan lingkungan' tak dilakukan, sama saja tak menjawab permasalahan...

Meski PMP kembali ke sekolah jika penegakkan 'hukum' setengah-setengah, masalah moral akan semakin parah...

Kira2 demikian menurut saya..... maaf jika keliru.

Semoga bermanfaat
#SalamPersaudaraan

Kamis, 06 April 2017

Mendeteksi Adanya Jin Dalam Tubuh

Mungkin saja kita pernah mengalami perasaan ganjil di mana terkadang kita melihat seperti ada bayangan orang di tengah malam. Nada ganjil memanggil kita saat sedang sendiri.

Bunyi-bunyi aneh dan seumpamanya. Hal seperti itu mungkin saja berlangsung karena ada mahluk Allah yang lain di sekitar kita..

Tak dapat disangkal kalau di dunia ini kita hidup bercampur baur dengan mahluk Allah yang lain yg tidak dapat kita lihat yakni kelompok Jin. Kadang-kadang ia tinggal bersama di rumah kita, tidak jadi masalah bila ia tidak mengganggu kehidupan kita. Tetapi adakalanya ia berada di dalam tubuh kita, sudah pasti ini dapat menyebabkan masalah pada kehidupan kita.

Jin yang menetap di dalam tubuh seorang dapat menyebabkan masalah serius seperti rasa sakit di bagian badan yg tidak dapat dideteksi dengan cara medis. Sering punya mimpi jelek, mendengar bisikan bisikan yang menyuruh lakukan suatu hal. Kadang-kadang gampang emosi serta marah tak menentu, malas melaksanakan ibadah serta kerjakan sholat. Susah memperoleh jodoh, senantiasa bernasib sial serta lain sebagainya. Butuh sekali bagi kita untuk mendeteksi apakah di tubuh kita ada mahluk jin yang menumpang atau tidak.

Mari kita coba untuk mendeteksinya:

Langkah 1
Dengarkan rekaman RUKYAH SYAR'IYAH dengan volume yang kuat. Ayat yang dibaca pada rekaman tersebut yaitu surat Al Fatihah, Surat Al Baqarah ayat 1-5, serta surat Al baqarah ayat 102 yang diulang lagi.

Langkah 2
Pejamkan mata serta janganlah turut bacaan ayat-ayat ini baik dimulut atau dihati.

Langkah 3
Cermati sesudah usai… Bila anda batuk, berpeluh-peluh, merasa mual, jantung berdegup kencang, merasa berdebar-debar, ada benda bergerak-gerak di bawah kulit, sendawa, mengantuk, pening serta menguap, jadi bisa dipastikan ada jin yang berdiam di dalam tubuh anda.

Cari ustadz atau tempat rukyah syar'iyah yang bisa menolong untuk membersihkan jin itu dari badan anda. Dapat pula anda kerjakan dengan rukyah mandiri, dengan tingkatkan keimanan serta ketakwaan anda pada Allah. Pada intinya Jin tidak mampu berdiam di dalam badan orang yang beriman serta bertawakkal seperti dijelaskan dalam surat An Nahl ayat 100.

Untuk Rukyah mandiri anda dapat juga memutar ayat ayat yang dipakai untuk mendeteksi jin tertulis diatas dengan cara berulang lagi. Mengerti serta resapi arti ayat itu. Anda dapat dengarkan nada rekaman ayat itu sembari lihat terjemahannya sebagai berikut berikut ini. Hayati arti ayat itu sampai anda rasakan kontak dengan Allah penguasa alam semesta. Rasakan getaran ilahi dari ayat yang anda dengar, sampai iman serta kepercayaan anda jadi tambah mantap. Insya Allah jin yang bersarang di tubuh anda bakal keluar dengan sendirinya

Kamis, 30 Maret 2017

Cara Melepaskan Diri Dari Belitan Ular Piton

Sebuah cerita seorang pemilik ular piton ini bisa jadi pelajaran berharga.
Sukmawati, perempuan asal Makassar menceritakan temannya yang memelihara seekor ular piton sempat bingung.
Alasannya ular piton tersebut tak mau makan beberapa hari.
Badan ular itu juga terus memanjang alias tak mau melilitkan badan seperti biasanya.
Sang pemilik piton pun membawa ular tersebut ke dokter hewan.
Setelah diperiksa, dokter menyarankan agar ular tersebut segera dijual saja.
Pemilik pun terkejut setelah dokter memberitahu alasannya.
Dokter bilang ular itu sedang mengukur badan majikannya untuk dimangsa.
Nia Kurniawan, pakar herpetologis dari Universitas Brawijaya, mengatakan perilaku ular sanca atau piton memangsa manusia bukan karena dia terancam, tapi karena memang lapar dan harus makan.
"Hewan karnivora, baik itu buaya, singa, harimau, ular, itu kan mengukur ukuran kalori. Jadi kalau dia ularnya besar, dia pengen makan, dia menghitung massa tubuh mangsanya'" kata Nia seperti dikutip dari BBC.
"Kalau ular ukuran empat meter itu, ada tikus lewat, tidak akan dimakan sama dia. Tapi kalau yang lebih besar minimal seukuran babi hutan, baru dia mau mengejar. Karena dia menghitung energi, energi untuk memangsa itu kan cukup besar. Jadi piton itu menjatuhkan diri, membelit. Dia akan menunggu sampai tidak ada detak jantung, baru dia akan melonggarkan, terus memakan," paparnya pula.
Maka jika piton yang dilaporkan mencapai tujuh meter, mereka akan mendapat kalori yang dibutuhkan dari korban seukuran manusia.
"Kalau kita dililit piton, jangan kita terlalu berontak-berontak. Pertama, energi kita habis, kedua, nggak bisa lepas dari piton. Kalau kita pura-pura lemas, bisa seketika itu ada kemungkinan lolos," kata Nia.

Ini 5 Jurus agar bisa lolos saat dililit Ular Piton:
Ular piton bukanlah ular berbisa.
Salah satu cara ular jenis ini mematikan adalah dengan cara membelit mangsanya.
Setelah menggigit, ular jenis ini biasanya membelit korbannya hingga tak bisa bernafas dan tewas.
Namun bukan hal mustahil untuk bisa lolos dari belitan ular piton.
Berikut beberapa jurus yang memungkinkan bisa lolos dari lilitan piton. Dirangkum dari berbagai sumber:
1. Pegang kepala ular
Saat dililit usahakan untuk menjangkau kepala ular. Pegang erat-erat. Kalau tidak dia akan menyerang dengan menggigit kita.

2. Posisi kuda-kuda
Setelah itu kaki kita harus berada dalam posisi kuda-kuda. Fungsinya untuk menghindari belitan ke kedua kaki kita. Jika ular sudah membelit kaki maka dia dengan mudah menjatuhkan kita. Maka hal itu semakin membuat kita tak berdaya.

3. Lindungi bagian leher
Salah satu tangan kita harus melindungi bagian leher. Fungsinya agar leher tidak terbelit dan menyebabkan kita tidak bisa bernafas.

4. Mulai dari ekor
Teknik melepas belitan ular piton adalah dengan mengurai belitannya dimulai dari ujung ekor hingga bagian tubuh. Ini sebaiknya dilakukan dengan cepat, karena Python bisa kembali membelit jika lengah.

5. Jangan berontak
Kalau kita dililit piton, jangan kita terlalu berontak-berontak. Pertama, energi kita habis, kedua, nggak bisa lepas dari piton. Kalau kita pura-pura lemas, bisa seketika itu ada kemungkinan lolos

6. Tongkat V
Dengan menggunakan tongkat yang berbentuk V. Tongkat itu diselipkan ke bagian leher Piton kemudian ditekan agar tidak lepas.

Semoga Bermanfaat

Amalan Bulan Rajab

Alhamdulillah hari ini kita sudah berada di hari ke 2 bulan Rajab 1438 H. Satu dari sekian banyak bulan yang istimewa dalam Islam adalah bulan Rajab, oleh karena itu marilah kita isi awal bulan Rajab ini dengan amalan-amalan yang mudah-mudahan bisa mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, Aamiin...

Berikut ini disertakan tujuh amalan bulan Rajab lengkap dengan dengan lafadz Arabnya:

1. Membaca Do'a:


فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَيَّ × ٧٠

Dibaca 70 kali setelah Shalat Subuh dan Maghrib dalam posisi masih Duduk Takhiyat Akhir

Fadhilah:
Barang siapa yang membaca Doa ini selama bulan Rojab maka ia tidak akan tersentuh api neraka, diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT sebanyak apapun dan Akan memperoleh welas asih kasih sayang Allah SWT.

2. Puasa 10 Hari Awal Bulan (tanggl 1 sampai 10 Rajab) Terutama 3 Hari Awal Bulan

Fadhilah:
Barang siapa Puasa 1 Hari (hari pertama) Karena Allah SWT dan Iman, maka dapat menebus Dosa (kafaroh) selama 3 Tahun. Dan dapat dipastikan keridhaan Allah SWT yang besar padanya serta akan diberi pahala orang ibadah seumur hidup (paginya puasa dan malamnya Ibadah)

– Bila Puasa 2 hari:
Maka dapat menebus dosa selama 2 tahun. Dan akan diberi pahala yang sangat banyak & besar sampai ahli langit dan bumi tidak bisa menghitungnya.

– Bila Puasa 3 hari:
Maka dapat menebus dosa selama 1 Tahun. Dan akan diselamatkan dari malapetaka (balak) dunia dan siksa Akhirat. Dan akan terbebas dari penyakit gila, kusta sejenisnya serta dari ancaman Dajjal

– Bila puasa hari ke 4 dan seterusnya:
Maka dapat menebus dosa selama 1 bulan.

– Bila Puasa 7 hari:
Maka tertutuplah baginya 7 pintu neraka jahanam sehingga tidak akan masuk kedalamnya.

Bila Puasa 8 Hari:
Maka terbukalah 8 pintu surga sehingga dapat masuk kedalamnya.

– Bila Puasa 10:
Maka segala permohonannya akan dikabulkan Allah SWT.

– Bila Puasa Setengah Bulan:
Maka diampuni dosa-dosa terdahulu amal buruknya diganti dengan amal baik.


3). Perbanyak Baca Istighfar Terutama SAYYIDUL ISTIGHFAR



اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
Fadhilah:
Barang siapa baca di waktu sore lalu ia wafat dimalam itu, maka ia masuk surga. Dan bila di baca di pagi hari lalu ia wafat di hari itu maka ia masuk surga.

4. Perbanyak Baca Doa
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ وَاَعِنَّا عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ

Fadhilah:
Barang siapa yang mau membaca Doa tersebut, maka akan diberi Barokah Rizkinya, Umurnya, Anak keturunannya dan Diampuni dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya serta mendapat Rahmat keridhoan Allah SWT.

5.
سُبْحَانَ اللّٰهِ الْحَيِّ الْقَيُّومْ × ١٠٠
Dibaca pagi sore 100 kali mulai Tanggal 1 sampai 10 Rajab
سُبْحَانَ اللّٰهِ الْأَحَدِ الصَّمَدْ × ١٠٠
Dibaca pagi sore 100 kali mulai Tanggal 11 sampai 20 Rajab
سُبْحَانَ اللّٰهِ الرَّؤُوفْ × ١٠٠
Dibaca pagi sore 100 kali mulai Tanggal 21 sampai 30 Rajab

Fadhilah:
Barang siapa yang mau mengamalkanya maka akan diberi pahala yang tidak bisa disifati karena sangat banyaknya..

6.
اَحْمَدُ رَسُوْلُ اللّٰهِ ، مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللّٰهِ × ٣٥
Dibaca 35 Kali pada hari Jum’at terakhir bulan Rojab saat Khotib diatas mimbar

Fadhilah:
Barang siapa yang mengamalkannya, maka tidak akan terputus uang di tangannya ditahun itu (diberi kejembaran rizki uang).

7. Perbanyak Baca Istighfar Rajab

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَسْتَغْفِرُاللّٰهَ اْلعَظِيْمَ ٣×
اَلَّذِيْ لآاِلَهَ اِلاَّ هُوَاْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ
مِنْ جَمِيْعِ اْلمَعَاصِيْ وَالذُّنُوْبِ، وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ مِنْ جَمِيْعِ مَاكَرِهَ اللّٰهُ قَوْلاً وَفِعْلاً وَسَمْعًا وَبَصَرًا وَّحَاضِرًا،
اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَسْتَغْفِرُكَ لِمَا قَدَّمْتُ وَمَااَخَرْتُ وَمَااَسْرَفْتُ وَمَااَسْرَرْتُ وَمَااَعْلَنْتُ وَمَااَنْتَ اَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ اَنْتَ اْلمُقَدِّمُ وَاَنْتَ اْلمُؤَخِّرُ وَاَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ،
اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ تُبْتُ اِلَيْكَ مِنْهُ ثُمَّ عُدْتُ فِيْهِ،
وَاَسْتَغْفِرُكَ بِمَااَرَدْتُ بِه وَجْهَكَ اْلكَرِيْمَ فَخَالَطْتُهُ بِمَالَيْسَ لَكَ بِهِ رِضًى،
وَاَسْتَغْفِرُكَ بِمَا وَعَدْتُكَ بِه نَفْسِيْ ثُمَّ اَخْلَفْتُكَ،
وَاَسْتَغْفِرُكَ بِمَادَعَالِيْ اِلَيْهِ اْلهَوَى مِنْ قَبْلِ اْلرُّخَصِ مِمَّااشْتَبَهَ عَلَيَّ وَهُوَعِنْدَكَ مَحْظُوْرٌ،
وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنَ النِّعَمِ الَّتِيْ اَنْعَمْتَ بِهَاعَلَيَّ فَصَرَفْتُهَا وَتَقَوَّيْتُ بِهَاعَلَى اْلمَعَاصِيْ،
وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنَ الذُّنُوْبِ الَّتِيْ لاَيَغْفِرُهَا غَيْرُكَ وَلاَيَطَّلِعُ عَلَيْهَااَحَدٌ سِوَاكَ وَلاَيَسَعُهَا اِلاَّ رَحْمَتُكَ وَحِلْمُكَ وَلاَيُنْجِيْ مِنْهَااِلاَّ عَفْوُكَ،
وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ يَمِيْنٍ حَلَفْتُ بِهَا فَحَنَثْتُ فِيْهَا وَاَنَاعِنْدَكَ مَأْخُوْذٌ بِهَا،
وَاَسْتَغْفِرُكَ يَالاَاِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ سُبْحَانَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ،
وَاَسْتَغْفِرُكَ يَالاَاِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ عَالِمُ اْلغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ مِنْ كُلِّ شَيِّئَةٍ عَمِلْتُهَا فِى بَيَاضِ النَّهَارِوَسَوَادِ الَّيْلِ فِى مَلاَءٍ وَخَلاَءٍ وَسِرٍّ وَعَلاَنِيَةٍ وَاَنْتَ اِلَيَّ نَاظِرٌ اِذَارْتَكَبْتُهَا تَرَى مَآاَتَيْتُهُ مِنَ اْلعِصْيَانِ بِهِ عَمْدًا اَوْ خَطَأً اَوْنٍسْيَانًا يَاحَلِيْمُ يَاكَرِيْمُ،
وَاَسْتَغْفِرُكَ يَالاَاِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ سُبْحَانَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ
رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَيَّ وَاَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ،
وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ فَرِيْضَةٍ وَجَبَتْ عَلَيَّ فِى اَنَآءِ الَّليْلِ وَاَطْرَافِ النَّهَارِ فَتَرَكْتُهَا عَمْدًا اَوْ خَطَأً اَوْنِسِيَانًا اَوْ تَهَاوُنًا وَاَنَا مَسْئُوْلٌ بِهَا وَمِنْ كُلِّ سُنَّةٍ مِنْ سُنَنِ سَيَّدِاْلمُرْسَلِيْنَ وَخَاتَمِ النَبِيِّيْنَ مُحَمَّدٍ وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَتَرَكْتُهَا غَفْلَةً اَوْسَهْوًا اَوْ جَهْلاً اَوْ تَهَاوُنًا قَلَّتْ اَوْكَثُرَتْ وَاَنَا عَائِدٌ بِهَا،
وَاَسْتَغْفِرُكَ يَالاَاِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ سُبْحَانَكَ رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ لَكَ اْلمُلْكُ وَلَكَ اْلحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ وَاَنْتَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ نِعْمَ اْلمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ ،
وَلاَحَوْلَ وَقُوَّةَ اِلاَّبِاللّٰهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ
وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
وَاْلحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ


Fadhilah:
Nabi SAW bersabda: “Barang siapa yang membaca Istighfar Rajab, maka akan dibangunkan 80 negeri di surga, setiap negeri mempunyai 80 mahligai, setiap mahligai mempunyai 80 rumah, setiap rumah mempunyai 80 kamar, setiap kamar ada 80 bantal dan setiap bantal 80 bidadari.”

Nabi SAW, juga bersabda kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra. : “Wahai Ali, tulislah Raja Istighfar ini, karena siapa yang membacanya, atau menyimpan tulisannya di dalam rumah, atau pada harta bendanya, atau tulisan itu dibawa kemana saja ia pergi, maka Allah SWT memberi kepadanya pahala 80000 nabi, 80.000 shiddiqin, 80.000 Malaikat, 80.000 orang mati syahid, 80.000 orang beribadah Haji Dan pahala membangun 80.000 masjid.”

Dan barang siapa yang membacanya sebanyak 4 kali atau 2 kali sepanjang hidupnya, maka akan diampuni dosanya oleh Allah SWT, walaupun ia ditetapkan akan masuk neraka.

Oleh karena itu, sebaiknya ISTIGHFAR RAJAB ini dibaca setiap malam atau siang, agar memperoleh pahala sebesar itu.

Guru Mulia Almaghfurlah KH. Muhammad Anwar Basya Bin Abu Bakar Asnawi menganjurkan untuk membaca ISTIGHFAR RAJAB setelah Shalat malam atau setelah Shalat Dhuha atau sebisanya minimal sehari dibaca Satu kali kapanpun & Dimanapun terutama selama Bulan Rajab.

Semoga manfaat dan barokah
اللّهمّ آمين ياربّ العالمين






Rabu, 15 Maret 2017

Mengatasi Sinusitis Tersumbat

Sinus merupakan ruangan kosong yang terletak di dalam tulang tengkorak kita. Sinus terdiri dari empat bagian, yaitu sinus frontalis, sinus ethmoidales, sinus maksilaris, dan sinus sphenoidales.
Untuk menjaga kelembapan ruangan di dalam sinus, kita membutuhkan cairan mukus yang akan dibuang melalui saluran hidung dan  tenggorokan. Cairan ini dibuang melalui lubang kecil yang menghubungkan sinus dengan hidung. Lubang ini sangat kecil sehingga apabila seseorang sedang mengalami hidung tersumbat karena pilek, maka akan tertutup.

Pada kasus lain, kita juga bisa menemukan lubang yang tertutup akibat peradangan atau infeksi yang menyebar dari saluran pernapasan ke permukaan sinus. Kondisi ini dikenal juga dengan istilah sinusitis.
Akibat lubang yang tertutup cairan sekresi dari sinus akan terkumpul dan menimbulkan  keluhan berupa  rasa penuh, tersumbat, nyeri kepala dan  nyeri pada lokasi sinus. Keluhan ini bisa sangat berat dan mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari.

Apapun penyebab sumbatan sinus, ternyata kita dapat membantu mengatasinya dengan mengeluarkan lendir yang menumpuk dengan cara alami. Nah, ini dia beberapa cara yang bisa kita coba antara lain:

1. Pembersihan dengan Ibu Jari dan Lidah
Dengan menggunakan teknik accupressure  serta memperharikan prinsip anatomi letak organ, kita juga bisa membersihkan sinus kita. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:
Taruh jempol atau jari telunjuk diantara kedua alis, tekan dengan kuat.
Dorong  lidah dengan kuat keatas pada palatum (bagian keras rongga mulut, perbatasan dengan bagian lunak). usahakan menekan secara mendatar, dan tidak menunjuk pada  pada satu titik saja
Pertahankan posisi ini selama 20-30 detik
Kira-kira setengah menit, anda mungkin akan merasakan adanya pergerakan  lendir di sekitar hidung dan tenggorokan. Hal ini berarti cairan yang menumpuk pada rongga sinus mulai sudah menemukan jalan keluarnya.

2. Irigasi Nasal dengan Neti Pot
Mencuci hidung  dengan menggunakan garam fisiologis (NaCl 0,9%) merupakan salah satu cara paling efektif untuk membersihkan sinus.  Hal ini dikenal jugadengan istilah irigasi nasal. Neti pot merupakan alat yang sering digunakan untuk memasukkan cairan salin ke dalam satu lubang hidung dan mengeluarkannya dari lubang hidung yang lain.

3. Uap panas
Uap panas baik yang berasal dari shower, humidifier, atau air panas yang ditaruh pada mangkok digunakan untuk melegakan dan membersihkan sinus. Uap panas akan mengencerkan lendir serta membuka saluran sinus sehingga memudahkan pembuangannya.


Semoga bermanfaat

Kamis, 02 Maret 2017

KEAJAIBAN ILMU MATEMATIKA

TERNYATA MATEMATIKA ITU RUMIT TAPI AJAIB

Penyebutan : Angka 1 sampai 9 dengan huruf bahasa Indonesia (satu s/d sembilan) mengundang decak kagum.

Jika kita menjumlahkan dua angka yang huruf awalnya sama, maka hasilnya selalu 10.

Angka Berawalan S —►
Satu + Sembilan = 10
Angka yang hurufnya Berawalan D —►
Dua + Delapan = 10
Berawalan T —►
Tiga + Tujuh = 10
Berawalan E —►
Empat + Enam = 10
Bahkan —► Lima + Lima = 10
Kok bisa begitu ya???...
😎😜🍼🍼😅😪.
Hari ini adalah Hari Matematika Nasional

Lihatlah yang menakjubkan dalam Matematika berikut ini !

1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10= 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888

Brilliant sekali ya?
Dan lihat simetrinya yang berikut ini :
1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321

Brilliant kan?

*Selamat Hari Matematika Nasional* 👍👍👍

Keren....

Entah siapa yang membuat rumus seperti ini, tapi ini memang keren....

Selasa, 14 Februari 2017

HAKIKAT PERSAUDARAAN

Hakikat Persaudaraan Sejati

Fatwa Ketua Umum SH Terate Pusat Madiun,

H. Tarmadji Boedi Harsono, S.E,

tentang Persaudaraan Menurut Pandangan SH Terate

(1). Persaudaraan Luhur

Persaudaraan yang diyakini dan dianut oleh SH Terate adalah persaudaraan yang luhur, didasari rasa saling sayang menyayangi, hormat menghormati dan bertanggung jawab. Persaudaraan yang tidak memandang siapa aku dan siapa kamu, tidak dilandasi hegemoni keduniawian, seperti derajat, pangkat dan martabat, juga bukan persaudaraan yang dibatasi suku, ras, agama dan antar golongan.

(2). Persaudaraan Sejati

Persaudaraan SH Terate adalah persaudaraan sejati. Yakni persaudaraan murni yang lahir dari lubuk hati sanubari, tanpa dilatarbelakangi oleh apa dan siapa. Persaudaraan yang lahir dari insan yang sama-sama merasa senasib sepenanggungan. Persaudaraan yang lahir dari kesadaran bahwa hakikat dirinya tidak berbeda dengan orang lain; yaitu berasal dari Dzat yang sama, Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Sebab SH Terate meyakini, bahwa semua manusia yang hidup di muka bumi ini pada dasarnya sama. Titah sakwantah. Makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

(3). Persaudaraan Tunggal Banyu

Dalam tradisi masyarakat Jawa, kita mengenal beberapa istilah sedulur (saudara). Antara lain, sedulur tunggal ibu bapak (saudara kandung), keponakan (kemenakan), sedulur temu gedhe, sedulur ipe (ipar), sedulur kadang katut (saudara ipar dari adik atau kakak), dan lain sebagainya. Konsep paseduluran (persaudaraan) ini pada dasarnya terangkai dalam sistem, hukum dan aturan yang berbeda-beda.

Sedangkan ditinjau dari sudut etimologi; kata “Persaudaraan” berasal dari bahasa Sanskrit. “Sa-udara”, mendapat imbuhan “per-an” berarti hal bersaudara atau tentang tata cara menggolong ikatan yang kokoh sebagai jelmaan “sa (satu)”, udara (perut) atau kandungan. Ibarat manusia dilahirkan dari satu kandungan (perut) maka mereka harus dapat bersatu padu secara tulus, dan selalu ingat akan awal mulanya, (eling marang dalane).

Sementara jika ditinjau dari susunan katanya, kata persaudaraan terdiri atas kata dasar “saudara” yang mendapatkan prefik “per” dan sufik “an”. Dan jika ditinjau dari segi nosi, konflik per-an pada kata “persudaraan” berarti membentuk kata tersebut menjadi sebuah kata benda abstrak. Artinya, persaudaraan itu sendiri adalah abstrak adanya. Dan hanya dapat dirasakan oleh orang yang menjalaninya. Selebihnya hanya dapat dilihat dari sikap yang ditampilkan seseorang terhadap orang lain.

Bagaimana sistem persaudaraan di SH Terate? Persaudaraan di SH Terate menganut sistem ”paseduluran tunggal banyu”. Artinya utuh dan menyatu. Banyu atau air itu ibaratnya selalu menyatu dan tak terpisahkan, sekalipun dibelah dengan pedang, ia akan menyatu kembali. Meminjam istilah Jawa : ”Datan pinisah senajan tinebas pedang ligan” ( Tak akan terbelah sekalipun ditebas dengan pedang).

(4). Penjabaran Rasa Saling Sayang Menyayangi

Pada dasarnya manusia yang hidup di muka bumi ini umatnya Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Kita itu sama. Baik manusia yang hidup di Indonesaia, Eropa, Amerika, di Malaysia, Timor Leste, di Australia, sama. Toh, kita ini tidak minta lahir di mana pun, tiba-tiba lahir di sini, jadi wong Amerika, jadi wong Jawa. Karena kita sama, sama-sama umat Tuhan, maka harus saling sayang menyayangi. Tidak ada gunanya kalau kita saling bermusuhan.

Rasa saling sayang menyayangi ini harus diwujudkan dengan tindakan nyata. Tidak hanya diomongkan. Tidak hanya dimimpikan. Sebagai misal, jika ada saudara kita sakit, maka kita harus ikut prihatin. Kita sempatkan untuk besuk. Harus memberikan dorongan semangat agar saudara kita yang sakit lekas sembuh.

Sebaliknya, jika mendengar saudara kita mendapat kebahagiaan, harus ikut merasa senang. Jangan lantas iri, dengki. Dalam bahasa jawa lebih dikenal dengan istilah “jiniwit katut” (ikut merasakan sakit jika salah seorang di antara kita disakiti) atau “tiji tibeh, yaji yabeh: mati siji mati kabeh, mulya siji mulya kabeh” (sama suka sama rasa).

(5). Cinta Tak Terbatas Sama Dengan Pembunuhan.

Harus diingat, rasa saling sayang menyayangi itu ada batasnya. Cinta itu ada batasnya. Karena cinta yang tidak ada batasnya sama dengan pembunuhan.

Contoh kasus, anak kita jatuh sakit. Misalnya, sakit kanker ganas. Sudah puluhan dokter dan ahli pengobatan alternative kita datangi dalam rangka ikhtiar. Akan tetapi anak tak kunjung sembuh. Dokter lantas menyuruh anak dioperasi. Mendengar itu, sudah barang tentu sebagai bapak, kita jadi deg-degan. Dengan operasi, berarti tubuh anak tercinta, akan dibedah, dijahit.

Di sini jiwa bapak diuji. Bapak akan merelakan anak yang dicintai dioperasi sebagai ikhtiar kesembuhan anak atau membiarkan anak terus menerus digerogoti kanker. Kalau cinta bapak pada anak tak terbatas, membabi-buta, maka bapak tidak akan merelakan anaknya dioperasi. Sebaliknya, jika bapak menyadari bahwa cinta itu ada batasnya, maka dengan keasadaran dan keyakinan serta kepasrahan kepada Tuhan, ia merelakan dokter mengoperasi anaknya. Mengangkat tumor ganas dari tubuh anak. Harapannya, agar anak tercinta bisa sembuh.

Soal setelah anak dioperasi, ternyata gagal, itu urusan lain. Urusan Tuhan Yang Maha Esa. Karena mati itu hukumnya wajib bagi makhluk hidup. Sebagai manusia kewajiban kita berikhtiar. Soal hasilnya, kita serahkan pada Tuhan.

Dalam lambang SH Terate, pengertian cinta itu ada batasnya disimbolkan dengan hati berwarna putih, berbatas merah.

(6). Penjabaran Saling Hormat Menghormati.

Pada hakikatnya, kehidupan manusia ini hanya melaksanakan tugas yang telah digariskan Tuhan. Manusia tinggal menjalani apa yang sudah dikapling-kapling oleh Tuhan. Ada yang jadi guru, masinis, jendral, pengusaha dan lain sebagainya.

Menyadari bahwa status kita ini hanya kaplingan Tuhan, hanya titipan yang suatu saat pasti diambil oleh Yang Punya, lalu apa gunanya kita ini sombong, iri, dengki, jahil, methakil. Apa gunanya kita saling melecehkan satu dengan yang lain, saling bermusuhan, saling gontok-gontokan (bertengkar).

Menyadari bahwa status yang kita sandang ini hanya titipan Tuhan, maka tugas kita, harus saling hormat menghormati.

Penghormatan dan penghargaan terhadap eksistensi manusia dan kemanusiannya ini harus kita pegang teguh. Sebab, pada hakikatnya manusia ini tidak akan mampu hidup sendiri. Manusia hidup di muka bumi ini saling membutuhkan. Sebab, setiap individu punya kelebihan dan kekurangan. Contoh, berapa puluh orang yang ikut andil untuk membuat baju yang sekarang kita pakai ini? Sekalipun saudara itu seorang ahli perancang busana, apakah saudara mampu membuat pakaian untuk dipakai saudara sendiri?

Saeorang perancang busana hanya ahli di bidang mendesign mode pakaian. Tapi, benang, kapas sebagai bahan baku benang, mesin jahit, listrik yang digunakan untuk menjahit, juga jarum mesin jahit yang saudara gunakan, apakah semuanya saudara buat sendiri tanpa bantuan orang lain?

Contoh lain, berapa puluh orang pula yang ikut andil untuk memproduk makanan yang kita konsumsi tiap hari? Kata lain, dalam hidup ini kita selalu butuh bantuan orang lain, sesuai dengan kelebihan dan kekurangan kita masing-masing.

(7). Penjabaran Saling Bertanggung Jawab

Agar persaudaraan yang telah terjalin di SH Terate tetap utuh, maka persaudaraan itu harus didasari rasa saling bertanggung jawab. Tidak ada dalam konsep paseduluran (persaudaraan) yang bertanggung jawab itu hanya ketua atau pengurus. Karena SH Terate ini organisasi paseduluran, semuanya harus ikut bertanggung jawab. Yakni, saling bertanggung-jawab terhadap apa yang telah diajarkan, diyakini, dan diamalkan.

Karena pertanggung-jawaban dalam konteks paseduluran adalah tanggung jawab moralitas terhadap apa yang telah diperbuat oleh pribadi masing-masing. Siapa berbuat, harus berani bertanggung jawab. Ini konsekuensi logis dari konsep ajaran Setia Hati. Setia pada dirinya sendiri.

(8). Tidak Ada Istilah Mantan Saudara di SH Terate

Persaudaraan di SH Terate itu tidak dilatarbelakangi apa pun dan juga tidak bisa dipengaruhi oleh siapa pun. Malah dalam beberapa kasus, tatarannya kadang-kadang lebih berat sedulur tunggal banyu ketimbang sedulur tunggal bapak ibu.

Sedulur tetap sedulur (saudara tetap saudara). Karena itu, di SH Terate tidak ada istilah mantan sedulur. Sekali masuk di SH Terate, selama itu pula kita harus tunduk, patuh serta taat pada aturan di SH Terate. Kalau kita membuat ulah sendiri, cindra janji (melanggar larangan atau pepacuh), berarti kita melanggar sumpah sendiri. Kalau kita cidra janji sama artinya kita berkhianat pada diri sendiri.

9) Mangro Tingal

Mangro tingal itu artinya bersikap mendua, berkeyakinan ganda atau bekepala dua. Sanepan dalam bahasa Jawa-nya “mBang cinde mbang ciladan”. Kata lebih keras dan tajam untuk menyebut pengertian ini adalah munafik.

Mangro tingal merupakan sikap yang tidak terpuji. Sebab sikap ini akan membuat seseorang menjadi tidak punya prinsip yang tetap dan selalu berubah ubah. Biasanya, cenderung mencari enaknya. Pokok lebih enak dan menguntungkan, itu yang dipegang. Sisi lain yang dirasa tidak enak, dibuang, disingkirkan.
Ibarat suami, mangro tingal ini seperti halnya suami yang beristri dua. Dalam kondisi tertentu, seorang yang beristri dua, pasti akan ngrasani sana sini. Jika berada di depan istri pertama, ia akan ngrasani kejelekan istri kedua. Sebaliknya, ia akan membicarakan kejelekan istri kedua, jika ada di depan istri pertama.

Dampak mangro tingal, akan menjauhkan seseorang pada nilai nilai keluhuran budi dan tidak memiliki jiwa ksatria dan jauh dari kesetiaan. Sikap ini jelas akan membahayakan diri sendiri dan kelompoknya. Karena, seseorang yang mangro tingal, dia tidak akan bisa dipercaya dan tidak bisa menjaga atau menyimpan rahasia. Selain itu, seorang yang mangro tingal, ia akan dengan mudah cidra janji (mengingkari janji) karena dalam jiwanya telah tumbuh bibit bibit kemunafikan. Dan salah satu sifat seorang yang menafik, jika dipercaya pasti dia akan berkhianat.

Sadar akan kelemahan dan bahaya tersembunyi dari sikap mangro tingal ini, SH Terate menempatkan mangro tingal sebagai salah satu klausul pelanggaran pepacuh. Tidak hanya itu, SH Terate juga menempatkan warga yang mangro tingal pada posisi cidra janji (ingkar janji). Sebab, SH Terate mengajarkan nilai-nilai ke-setia hati-an dan keluhuran budi. Sikap mangro tingal, sangat bertentangan dengan nilai-nilai kesetiaan dan keluhuran budi.

(10). Sanksi Pelanggaran Pepacuh.

Jika warga SH Terate cidra janji (melanggar pepacuh), sekalipun secara organisatoris SH Terate diam, karena mungkin tidak kamanungsan (tidak ada orang yang tahu), yakinlah, dampaknya akan menimpa diri kita sendiri. Sapa nandur bakal ngundhuh (siapa menanam akan memetik buahnya).

Jadi, sanksi terhadap pelanggaran pepacuh atau pelanggaran sumpah di SH Terate terkait dalam konteks ini, sebenarnya adalah sanksi moral. Karena, konteksnya memang berada di ranah normatif. Karena itu, saya tegaskan, setiap warga SH Terate harus memahami betul apa makna persaudaraan di SH Terate ini.

Lalu bagaimana kalau ada saudara kita yang cidra janji? Tugas kita adalah mengingatkan. Konteksnya, saling menghamat-hamati. Jika dielingake (diingatkan) masih belum sadar, karena mungkin masih lupa, kita ingatkan lagi. Satu, dua kali, tiga kali, kita ingatkan belum juga mau sadar, terpaksa kita tinggalkan dulu. Jika saudara kita yang cidra janji itu kebetulan pegang jabatan dalam kepengurusan, sementara diistirahatkan dulu. Tapi tetap kita rangkul dan kita ingatkan. Jangan dimusuhi. Sebab sejelek apa pun, dia itu saudara kita, yang punya hati nurani. Kemudian kita doakan dengan sebuah keyakinan, bahwa, pada saatnya, dia pasti akan sadar.

(11). SH Terate Tidak Bicara Soal Tingkatan

Persaudaraan di SH Terate tidak berbicara soal tingkatan. Tingkatan dalam pelajaran SH Terate, hanya diberlakukan pada sistem pengajaran. Tujuannya untuk mempermudah proses penyampaian informasi atau pelajaran.

Dalam proses belajar mengajar, memang terdapat perbedaan muatan pelajaran. Pelajaran tingkat satu, berbeda dengan tingkat dua, pelajaran tingkat tiga berbeda dengan pelajaran yang diberikan pada tingkat satu dan dua. Misalnya, tingkat satu nek gegeran antem-anteman ( tingkat satu kalau berkelahi pukul-pukulan). Karena isone mung antem-anteman (Bisanya pukul-pukulan). Gak kenek tangane, sikile (Tidak dapat tangannya, kakinya). Tapi kalau tingkat dua, gak enek gelut (Tidak ada istilah berkelahi). Tabu bagi tingkat dua gawe susahe wong (membuat susah orang lain, mencelakai orang lain). Tingkat II itu harus mampu menjadi contoh dan mampu menjalankan ajaran SH sedalam-dalamnya.

Jurus Tingkat II hanya 15. Nek sambung pasangan ngisor (Kalau sambung pasangannya bawah). Pasangannya rendah. Artinya, watak orang itu harus andhap asor (santun). Tidak boleh sombong.

Jadi warga Tingkat II itu harus mampu memberi contoh suriteladan pada adik-adiknya. Bersikap santun dan mampu memberikan pengayoman pada masyarakat.

(12). SH Terate Jangan Dibawa ke Mana-Mana

Tapi Biarkan Ada di Mana-Mana

Saya sering mengatakan, SH Terate itu merupakan sosok organisasi paseduluran yang memiliki nilai spesifik dan unik. Ia tidak bisa dibawa ke mana-mana. Tidak bisa di bawa ke pemerintahan, organisasi masa, organisasi politik dan organisasi yang lain. Karena yang dibangun di SH Terate itu konsep paseduluran (persaudaraan). Maka saya meminta, SH Terate ini jangan dibawa ke mana-mana. Tapi biarkan SH Terate ada di mana-mana.

(13). Cinta Kasih Sesama Manusia

Yang dikembangkan di SH Terate ádalah cinta kasih sesama manusia. Cinta kasih yang berangkat dengan hati tulus dan bersih. Dan, dengan hati yang bersih itu pula kita dengan lantang mengatakan, yang benar adalah benar, yang salah adalah salah. Dengan hati tulus dan bersih itu kita berjuang membela kebenaran dan memberantas kemungkaran.

Kalau kita hayati benar ajaran ini, hidup ini ayem tentrem. Saya sering mengatakan, orang SH Terate itu tidak mau diperintah, tidak mau diatur, tapi kita akan tunduk pada aturan dan hukum yang berlaku. Misalnya, kalau hita hidup di lingkungan ya kita harus tunduk aturan dan hukum di lingkungan. Kalau kita hidup di sebuah negara ya kita harus tunduk dan patuh pada aturan dan hukum negara.

(14). Ojo Seneng Gawe Ala Ing Liyan, Apa Alane Gawe Seneng Ing Liyan

SH Terate mengajak warganya untuk guyup rukun. Ojo seneng gawe ala ing liyan apa alane gawe seneng ing liyan (Jangan suka membuat susah atau mencelakai orang lain, apa jeleknya membuat senang orang lain).

Yang diajarkan oleh SH Terate itu guyup rukun. Tidak suka membuat susah orang lain (Aja sok gawe susah ing liyan) tapi setiap saat kita harus siap dan ikhlas membuat orang lain terayomi, membuat orang lain bahagia (Apa alane gawe seneng ing liyan).

Jangan mempunyai prasangka buruk terhadap orang lain. Jangan iri, dengki, jahil methakil, dakwen salah open. Semua sifat itu harus dihindari. Artinya, kita harus berpikiran positif dan setiap saat ikhlas memancarkan cinta kasih kepada sesama. Kalau bisa menghayati ajaran ini, kita akan bisa hidup ayem tentrem di SH Terate.

Dalam ajaran SH Terate, bila antarsesama warga telah mencapai kadar persaudaraan semacam ini, dikatakan bahwa kita sudah “ketemu rose” (bertemu rasa-nya).

(15). Arti Sanepan Lumah Kurepe Ron Suruh (Penampang Sirih)

Kita ibaratkan kemudian, bahwa persaudaraan dalam SH Terate adalah persaudaraan yang dalam “sanepan” dikatakan: “Kadya lumah kurepe ron suruh. Dinulu seje rupane, nanging ginigit tunggal rasane” (Seperti penampang daun sirih. Jika dilihat beda rupanya, akan tetapi jika digigit sama rasanya).

Ojo sok gawe olo ing liyan. Sebab, kalau kita membuat susah orang lain, kasihanlah. Logikanya begini, dalam mengarungi kehidupan, orang itu belum tentu bahagia. Ibaratnya, hidup ini saja spekulasi. Kalau kita buat orang itu susah kan kasihan. Karena kesusahan orang itu jadi dobel. Ini hakikatnya.

(16). Jangan Menghina Mahluk Tuhan

Kemudian, kalau kita mau merenung lebih dalam lagi, manusia itu, baik kaya, miskin, tampan, jelek, semua ciptaan Tuhan. Kalau kita membuat susah orang lain, sama artinya kita melecehkan ciptaan Tuhan. Tidak menghargai ciptaan Tuhan. (Pertanyaan yang harus dikedepankan) Kalau kita membuat susah orang lain, sekalipun orang itu tidak marah, karena mungkin segan atau takut pada kita, apakah Tuhan, yang membuat orang itu, akan diam? Apakah Tuhan tidak marah karena ciptaannya kita lecehkan?

(17). Jalani Hidup Ini Dengan Rasa Syukur

Jangan melihat kehidupan ini hanya satu sisi. Jangan melihat orang dari harta, drajat, pangkatnya saja. Kita harus melihat kodratnya manusia menjalani hidup ini. (Yakni), setiap orang pasti akan menghadapi kendala, menghadapi rintangan. (Sebaliknya) setiap

orang juga sama-sama diberi anugrah. Tugas kita sebenarnya hanya sensyukuri apa pun yang diberikan Tuhan pada kita. Kedua, selalu berdoa agar hidup kita ini bahagia.

Seneng (bahagia) sendiri, secara lahiriah bukan berarti kita ini harus sugih mblegedug (kaya raya). Sebab kekayaan tidak diukur dengan materi. Ibaratnya sugih tanpa banda. Kalau saya boleh memilih, saya lebih suka cukup sajalah.

Contohnya, tukang mbubuti suket (pencari rumput). Dia akan bisa hidup dengan tentram kalau kebutuhannya tercukupi. Atau, dia sendiri merasa kebutuhannya cukup dan bisa mensyukuri nikmat. Karena belum tentu, kalau kita jadi presiden, jadi ratu, terus merasa cukup.

Nah, kalau kita membuat orang lain seneng, kita juga akan seneng. Seneng itu bermacam-macam. Bukan berarti kita menyenangkan orang lain itu dengan memberikan bantuan. Tidak harus. Tapi, kita bisa berikan mereka pengayoman, kedamaian, sehingga mereka merasa terayomi.

Kalau kita bisa hidup berdampingan dan membuat orang lain itu seneng, maka ibaratnya, kita sudah menanam benih kehidupan. Wong kang nandur bakal ngundhuh (Orang yang menanam akan memetik buahnya). Sapa sing miwiti bakal mungkasi (Siapa berbuat dia akan menerima akibat dari perbuatannya). Kalau kita membuat orang lain seneng, maka kita juga akan dicintai orang lain. Kita akan dicintai Tuhan. Sehingga hidup ini nikmat. Kita bisa hidup damai berdampingan dengan tetangga dan lingkungan.

(18). Harus Bisa Mengukur Diri Sendiri

Perbedaan dan persaingan itu wajar. Karena manusia itu universal. Punya kelebihan dan kekurangan. Karena itu, kita harus mampu mengukur diri sendiri. Jangan bandingkan saya dengan presiden. Apalagi jika alat ukurnya kebendaan. Jauh itu. Kekayaan saya dengan presiden tidak akan sebanding.

Tapi yakinlah, kebahagiaan dan kesedihan manusia itu sama. Saya dan presiden sama-sama menginginkan kebahagiaan. Juga sama-sama sering merasa sedih. Setiap manusia hidup mengalami masa-masa bahagia dan kesedihan. Yang berbeda takarannya. Yang berbeda hanya nilai-nilai kebendaan saja. Itu pun hanya sesaat. Dan itu semua ada batasnya. Seorang tukang becak akan merasa bahagia sekali jika setelah ia bekerja nggenjot (mengayuh) becak seharian, mendapat rejeki seratus ribu rupiah. Tapi presiden? Apa cukup seorang presiden hidup dengan seratus ribu sehari?

(19) Koreksi Diri Sendiri Sebelum Mengoreksi Orang Lain

Sebelum mengkritik orang lain, tolong koreksi dirimu sendiri. Apakah aku ini sudah patut. Minimal patut menjadi contoh dan suriteladan di tingkat keluarga. Kalau di tingkat keluarga sudah baik, kemudian di tengah lingkungan. Sesudah itu di tengah-tengah masyarakat luas.

Sebelum ngrasani atau mengkritik orang lain, mari kita kenali diri sendiri. Sehingga paling tidak orang SH Terate harus bisa instropeksi. ”Lho lho nek ngono aku iki elek, nek aku dewe elek ngopo aku ngelokake wong, wong aku dewe yo elek.(Lho, kalau begitu aku ini jelek. Kalau aku sendiri masih jelek, kenapa aku mengkritik orang lain, wong, aku sendiri masih jelek).

(20). Tugas Kita Menjaga Keutuhan Persaudaraan

Tugas dan kewajiban kita di SH Terate adalah menjaga persaudaraan yang telah kita yakini ini demi terwujudnya kedamaian dan kelestarian dunia (Mamayu hayuhning bawana).

Persaudaraan ini, akan tetap utuh kalau kita ini tidak merasa, aku sing paling kuat, aku sing paling pinter aku sing paling ngerti (Adigang, adigung, adiguna). Kita dididik penuh kesederhanaan. Status yang kita sandang saat ini hanya titipan sementara. Dan, itu tidak akan berpengaruh di dalam paseduluran (persaudaraan).

Namun demikian, perlu saya tegaskan, tolong esensi persaudaraan ini jangan disalah artikan. Persaudaraan yang sudah “ketemu rose” jangan dirusak. Harus dipahami dan dihayati serta dilaksanakan dengan benar.

Persaudaraan yang tidak memandang siapa “aku” dan siapa ”kamu” itu bukan berarti tanpa batasan. Tidak memandang siapa “aku” dan siapa “kamu” itu tolong jangan “digebyah uyah”

Sebab Persaudaraan di SH Terate itu adalah persaudaraan yang tetap menjujung tinggi “unggah-ungguh”, tata krama atau sopan santun, sesuai dengan norma dan budaya bangsa.

(21). Tidak ada Istilah Guru dan Murid Dalam SH Terate

Karena prinsip dasar ajaran SH Terate itu persaudaraan maka dalam proses pembetukan jatidiri warga di tubuh SH Terate, yang direalisasikan dengan latihan pencak silat, tidak ada istilah guru dan murid. Yang ada hanyalah hubungan antara saudara tua dan muda. Kakak dan adik.

Korelasinya, saudara yang lebih “muda” harus menghormati saudara “tua”. Istilahnya; adik harus menghormati kakak-kakaknya. Sopan dan santun. Sebaliknya, kakak harus menyayangi adik-adiknya, harus bisa memberikan contoh dan teladan yang baik. Tidak boleh semena-mena. Tidak boleh merasa paling senior, kemudian bertindak semaunya sendiri.

Karena itu, tradisi panggilan di SH Terate yang ada hanya dua panggilan. Kakak atau Mas dan Adik atau Dik. Mas-Mas kita dulu, sering menggunakan panggilan kepada adik-adiknya dengan cara di balik. ”Dik” dibalik jadi ”Kid”. Sekalipun begitu, mereka tetap santun. Bahkan, Mas Imam (RM Imam Koesoepangat) memberi contoh penghargaan dan rasa kasih sayang kepada adik-adiknya ini dengan”basa” (memakai krama inggil dalam tataran dialog Bhs Jawa, pen) saat berbicara.

(22). “Rukun Nanging Ora Kumpul” dan “Ya Kumpul Ya Rukun”

Dalam jalinan Persaudaraan Setia Hati Terate, kitamengenal dua kemungkinan terjalinan rasa persaudaraan dalam proses keberadaan hidup kita. Kemungkinan pertama adalah “Rukun Nanging Ora Kumpul”. Sedangkan kemungkinan kedua “Ya Kumpul Ya Rukun”.

Sebagai contoh, seorang diantara saudara kita, karena suatu tugas yang diamanatkan kepadanya harus pergi dan berpisah meninggalkan kita. Maka dengan tulus, kita harus merelakan kepergiannya. Lain waktu, karena tugas dan tanggung jawab, kita harus pergi jauh meninggalkan saudara-saudara kita, dan kita pun harus pergi dengan niat dan tekad utama. Ibaratnya, “aluwung orang kumpul nanging rukun tinimbang kumpul nanging ora rukun”(leboih baik tidak berkumpul tetapi rukun daripada berkumpul tetapi tidak rukun). Sebab, PSHT menitikberatkan pada jalinan persaudaraan yang tulus dan rukun daripada kumpul. Artinya, meskipun kita terpisahkan oleh ruang dan waktu, tetapi jiwa kita tetap menyatu. Kalau bisa, “Ya Kumpul Ya Rukun” (berkumpul dalam satu wadah dan rukun).

(23). Sistem Kontrol Persaudaraan (Saling menghambat-hambati)

Lantas kini, timbul satu pertanyaan; bagaimanakah agar kerukunan itu dapat terpelihara dengan baik? Formulanya adalah, kita harus kembali menjaga dan membina persaudaraan yang merupakan inti dari kerukunan itu sendiri. Salah satu wujud pembinaan dalam upaya menjaga persaudaraan itu, diantaranya adalah saling menghamat-hamati.

Kemauan untuk saling menghamat-hamati, ini merupakan sistem kontrol dari dan untuk Keluarga Besar PSHT. Dalam istilah yang lebih populer sering disebut sebagai “waskat” (pengawasan melekat).

Artinya, masing-masing personel yang berada di dalam wadah Persaudaraan Setia Hati Terate secara aktif harus bisa melakukan pengawasan baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap yang lain. Dengan sistem kontrol ini, setiap anggota harus berani memberikan nasihat atau teguran jika mendapati salah seorang saudaranya melakukan kesalahan atau keluar dari rel yang telah digariskan. Dengan catatan jangan mencari-cari kesalahan. Kalau terpaksa kita harus memberikan teguran, sampaikan dengan persuasif atau teguran yang bersifat mendidik (among rasa).

(24). Berdosa Tanpa Berbuat

Membiarkan seseorang melakukan kekeliruan, padahal kita tahu bahwa akibat dari tindakan keliru itu akan membahayakan orang itu sendiri, berarti secara tidak langsung kita ikut menjerumuskan orang tersebut ke jurang kenistaan. Lain kata, kita ikut menanggung dosa atas perbuatan orang itu. Dalam Persaudaraan Setia Hati Terate dikenal dengan istilah “dosa tanpa berbuat”.

Maka yang terbaik bagi kita adalah katakan yang sebenarnya jangan yang sebaiknya dan katakan yang benar sekalipun itu pahit. Berikan peringatan jika melihat saudara kita melakukan kekeliruan, ketimbang membiarkan saudara sendiri terjerumus ke lembah kenistaan (tega larane ora tega patine).

Sebaiknya, bagi anggota yang merasa melakukan kekeliruan dengan tulus harus bisa menerima nasihat itu. Jangan lantas membenci saudaranya yang memberi teguran. Ini mengingat bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Manusia itu tak luput dari kekhilafan dan kekeliruan. Melihat kelemahan diri sendiri lebih sulit ketimbang mencari kekeliruan orang lain. Dalam pepatah sering dikatakan “gajah di pelupuk mata tak terlihat, kuman di seberang lautan tampak jelas”.

(25). Platform SH Terate Bukan Pencak Silat Tapi Paseduluran

Platform SH Terate paseduluran. Jadi, jangan dibalik. Pencak silat jadi platform, paseduluran belakangan. Tidak begitu. Kalau begitu, akan buyar pasedulurane. (Akan hancur persaudaraannya)

SH Terate itu, organisasi pelestari budaya bangsa. Tapi orangnya, orang yang beriman bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ibaratnya, kita ini dekat kepada Allah swt.

Kini saatnya SH Terate berubah, kembali ke jatidiri dan menunjukkan jatidiri. Tapi harus diingat, platformnya adalah paseduluran. Kalau kita mengejar prestasi dalam olah raga pencak silat, kita harus paham bahwa pencak silat itu olah raga bela diri adiluhung warisan leluhur yang tetap menjunjung tinggi sopan dan santun. Menjunjung tinggi keluhuran budi.

____________________

(Disampaikan sebagai bahan referensi dalam acara Temu Kadang di Padepokan Agung SH Terate Pusat Madiun)

Senin, 13 Februari 2017

Imunisasi Syariah

Sampai saat ini masih banyak Saudara kita kaum Muslimin yang belum mengetahui dan menerapkan metode ‘imunisasi’ sesuai tuntunan Islam. Padahal sejak dini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan “tahnik” sebagai metode imunisasi yang sesungguhnya dengan mengandalkan kurma sebagai media utama.
Dengan demikian, Islam tidak pernah mengajarkan bahkan melarang penggunaan bahan-bahan berbahaya, haram, najis dan subhat untuk dikonsumsi; pengobatan maupun dimasukkan (disuntikkan) lewat pembuluh darah. Dan di zaman sekarang, imunisasi/vaksin beberapa di antaranya banyak mengandung bahan-bahan Haram, dan zat berbahaya.
Imam Bukhori meriwayatkan dari Abu Musa radhiallahu ‘anhu, beliau berkata;
“(Suatu saat) aku memiliki anak yang baru lahir, kemudian aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau memberi nama padanya dan men-tahnik dengan sebutir kurma.”
Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata;
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan anak kecil, lalu beliau mendo'akan mereka dan men-tahnik mereka.”
An Nawawi menyebutkan dua Hadits di atas dalam Shahih Muslim;
“Dianjurkan men-tahnik bayi yang baru lahir, bayi tersebut dibawa ke orang shaleh untuk di-tahnik. Juga dibolehkan memberi nama pada hari kelahiran. Dianjurkan memberi nama bayi dengan Abdullah, Ibrahim dan nama-nama Nabi lainnya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
“Kurma itu menghilangkan penyakit dan tidak membawa penyakit, ia berasal dari Surga dan di dalamnya terdapat obat.”
Sa’ad radhiallahu ‘anhu mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
“Barangsiapa memakan 7 buah kurma ajwa di pagi hari, maka racun dan sihir tidak membahayakannya pada hari itu.” [HR Bukhari & Muslim]
Salamah binti Qais radhiallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
“Berikanlah kurma kepada wanita yang akan melahirkan, agar anaknya menjadi murah hati, itu adalah makanan Maryam saat akan melahirkan Isa. Jika Allah mengetahui ada yang lebih baik dari itu, tentu Dia telah memberikannya.”
Dalam riwayat lain dari Imam Bukari; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk para istri-istri kamu yang sedang hamil untuk makan buah kurma, niscaya anak yang akan lahir kelak akan menjadi anak yang penyabar, bersopan santun serta cerdas.
Imam Bukhari juga meriwayatkan bahwa Abu Musa radhiallahu ‘anhu berkata;
“Seorang anakku lahir, akupun membawanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menamainya Ibrahim, beliau melolohkan dengan sebutir kurma, memohon berkah baginya lalu menyerahkannya kepadaku.”
Imam Bukhari dalam Shahih-nya men-takhrij Hadits dari Asma’ binti Abu Bakar radhiallahu ‘anha.
Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiallahu ‘anha. bahwa dirinya ketika sedang mengandung Abdullah ibn Zubair di Mekkah mengatakan; “Saya keluar dan aku sempurna hamilku 9 bulan, lalu aku datang ke Madinah, aku turun di Quba’ dan aku melahirkan di sana, lalu aku pun mendatangi Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, maka beliau menaruh Abdullah ibn Zubair di dalam kamarnya, lalu beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam meminta kurma lalu mengunyahnya, kemudian beliau memasukkan kurma yang sudah lumat itu ke dalam mulut Abdullah ibn Zubair. Dan itu adalah makanan yang pertama kali masuk ke mulutnya melalui Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, kemudian beliau men-tahnik-nya, lalu beliau pun mendo’akannya dan mendo'akan keberkahan kepadanya.”
Subhanallah... Hikmah dari Hadits di atas sangatlah bagus dan patut kita yakini serta terapkan, selain dari sisi konten kurma yang sangat besar kandungan gizinya dan manfaatnya untuk menjaga kesehatan serta obat. Ternyata buah kurma memiliki hikmah lain yang sangat special bilamana sejak awal diberikan pada bayi yang baru lahir (tahnik).
Disinilah perlunya kita ketahui makna dan manfaat Tahnik yang diajarkan Islam melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tahnik adalah memberikan kurma yang telah dilembutkan oleh orang tuanya dengan menggerak-gerakkan dari kiri ke kanan sampai merata di langit-langit mulut bayi dengan lembut seraya berdoa dan berdzikir.
Memasukkan kurma ke dalam mulut bayi adalah sebuah hal menakjubkan terdapat manfaat kesehatan yang besar.
Terbukti buah kurma mengandung unsur-unsur penting yang dapat melindungi bayi dari penyakit dan memperkuat daya tahan tubuh.
Kurma juga berkhasiat melindungi dan membentengi anak sepanjang hidupnya, terlebih dari itu hikmah melolohkan (memasukkan) kurma ke dalam mulut bayi berguna untuk menguatkan syaraf-syaraf mulut bayi dan gerakan lisan beserta tenggorokan dan dua tulang rahang bawah dengan jilatan sehingga anak siap untuk menghisap air susu ibunya dengan kuat dan alami.
Kurma yang diberikan bayi dengan proses pelumatan ataupun pengunyahan dari mulut kedua orang tuanya juga mengandung makna yang special dalam menjalin ikatan batin kepada anaknya. melalui air liur kedua orang tuanya akan mengikat hati bayi dengan cinta mereka dan mengalirkan kepadanya fitrah Islam mereka yang suci.
Anak akan tumbuh dengan baik dan bersih dan juga dapat merasakan manisnya iman, sebagaimana manisnya buah kurma yang bercampur air liur, yang bersamaan lidah selalu dibasahi dengan dzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Melolohkan (memasukkan) kurma ke dalam mulut bayi adalah sebuah Ritus yang dapat menanamkan dalam jiwa kedua orang tua kasih sayang yang tulus kepada anak-anak mereka, sehingga keluarga Muslim ini akan hidup dalam keharmonisan, kedamaian dan cinta kasih.
Bayi dilahirkan dalam keadaan kekurangan glukosa. Bahkan apabila tubuhnya menguning, maka bayi tersebut dipastikan membutuhkan glukosa dalam keadaan yang cukup untuknya. Bobot bayi saat lahir juga mempengaruhi kandungan glukosa dalam tubuhnya.
Pada kasus bayi prematur yang beratnya kurang dari 2,5 kg, maka kandungan zat gulanya sangat kecil sekali, dimana pada sebagian kasus malah kurang dari 20 mg/100 ml darah.
Adapun anak yang lahir dengan berat badan di atas 2,5 kg maka kadar gula dalam darahnya biasanya di atas 30 mg/100 ml. Kadar semacam ini berarti merupakan keadaan bahaya dalam ukuran kadar gula dalam darah.
Hal ini bisa menyebabkan terjadinya berbagai penyakit, seperti bayi menolak untuk menyusui, otot-otot bayi melemas, aktivitas pernafasan terganggu dan kulit bayi menjadi kebiruan, kontraksi atau kejang-kejang.
Terkadang bisa juga menyebabkan sejumlah penyakit yang berbahaya dan lama, seperti insomnia, lemah otak, gangguan syaraf, gangguan pendengaran, salah satu penglihatan atau keduanya.
Apabila hal-hal di atas tidak segera ditanggulangi atau diobati maka dikhawatirkan bisa menyebabkan kematian. Padahal obat untuk itu adalah sangat mudah, yaitu memberikan zat gula yang berbentuk glukosa melalui infus, baik lewat mulut, maupun pembuluh darah.
Mayoritas atau bahkan semua bayi membutuhkan zat gula dalam bentuk glukosa seketika setelah lahir, maka memberikan kurma yang sudah dilumat bisa menjauhkan sang bayi dari kekurangan kadar gula yang berlipat-lipat.
Disunnahkannya tahnik kepada bayi adalah obat sekaligus tindakan preventif yang memiliki fungsi penting, dan ini adalah mukjizat keNabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam secara medis dimana sejarah kemanusiaan tidak pernah mengetahui hal itu sebelumnya, bahkan kini manusia tahu bahayanya kekurangan kadar glukosa dalam darah bayi.

Kandungan Nutrisi, Mineral dan Vitamin dalam Kurma
Manfaat Buah Kurma Untuk Kesehatan
Menguatkan imunitas tubuh
Mencerdaskan otak
Meningkatkan daya tahan (antibodi)
Meningkatkan Hemoglobin (baik untuk penderita animea)
Meningkatkan jumlah trombosit
Sebagai multivitamin
Anti bakteri dan virus
Baik untuk masa pertumbuhan
Mengatur kepadatan tulang
Meningkatkan nafsu makan
Memelihara ketajaman mata dan pendengaran
Menenangkan dan menguatkan syaraf
Menstabilkan kejiwaan anak
Melancarkan pencernaan
Mengobati cacingan
Mengobati panas (demam), flu, batuk
Menghaluskan kulit

Solusi Bagi Mereka yang terlanjur memberikan vaksin & imunisasi pada anak-anaknya
1. Perbanyak istighfar
Karena kewajiban selaku orangtua dituntut dan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hal memberi nama pada anak, bersikap adil dalam memberikan kasih sayang, memeberikan nafkah dari rezeki dan barang yang halal serta pendidikan moralnya.
Dalam Surat Al-Baqarah : 168 Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;
“Hai sekalian manusia makanlah yang halal dan baik apa yang ada di bumi, dan jangan mengikuti langkah-langkah Syetan karena sesungguhnya Syetan adalah musuh yang nyata bagimu.”
Dalam Surat Al-Baqarah : 173 Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang (yang ketika disembelih) disebut nama selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ”

2. Berdo'a kepada Allah SWT dengan tujuan memohon ampun atas dosa-dosa
Memohon petunjuk, ketetapan iman dan dilindungi dari gangguan dan kebodohan orang-orang kafir. Doanya ada dalam Surat Al-Baqarah : 201 yakni;
“Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di Dunia dan di Akhirat dan peliharalah kami dari siksa Neraka.”
Juga ada dalam Surat Ali-Imran : 147 yakni;
“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami. Dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum kafir.”

3. Untuk membantu mengeluarkan unsur racun dari imunisasi/vaksinasi sekaligus meningkatkan antibodi-nya
Yaitu dengan memberikan al-Habbatus Sauda (jintan hitam), madu, kurma, zaitun dan air kelapa.

4. Selalu mendo'akan anak-anak dengan Do'a yang diSyari'atkan Rasulullah SAW
“Rabbana hablana min azwajina wa min dzurriyatina qurrota a’yunin waj’alna lilmuttaqiina imama.”
Demikianlah cara imunisasi yang telah dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara Tahnik. 
Wallahu‘Alam Bishawab.

Semoga bermanfaat. 

Minggu, 22 Januari 2017

PERSAUDARAAN

PERSAUDARAAN

"Persaudaraan adalah sebuah ikatan batin antara manusia satu dengan manusia yang lainnya, yang tidak dapat dipisahkan oleh apapun"

Itu hal pertama yang diajarkan di PSHT, itu juga yang katanya paling diutamakan.

Akibatnya para anggota PSHT sangat menjunjung tinggi persaudaraan melebihi apapun, atau setidaknya itulah yang mereka ucapkan.

Kebanyakan anggota memahaminya sebagai bahwa sesama anggota PSHT adalah saudara, saudara yang bahkan lebih dekat dari saudara kandung, dan selain anggota PSHT adalah bukan saudara.

Itulah kesalahan fatal yang membuat para anggota PSHT gagal menjadi manusia yang berbudi luhur.

Mereka mendewakan persaudaraan dengan pemahaman yang keliru, menjadi dasar mereka melakukan tindakan brutal, tawuran, pengeroyokan, penganiayaan bahkan pembunuhan dengan alasan solidaritas.

Padahal jelas, PSHT mengajarkan bahwa :
"Persaudaraan adalah sebuah ikatan batin antara manusia satu dengan manusia yang lainnya, yang tidak dapat dipisahkan oleh apapun",
Bukan :
"Persaudaraan adalah sebuah ikatan batin antara anggota PSHT satu dengan anggota PSHT yang lainnya, yang tidak dapat dipisahkan oleh apapun".

PSHT ingin setiap anggotanya menganggap semua manusia adalah saudara, persaudaraan yang dibangun antar anggota dalam organisasi PSHT hanyalah dalam rangka latihan bersaudara antar manusia, dan penerapannya adalah pada kehidupan sehari-hari.

Anggota PSHT diharapkan mampu bersaudara dengan ikhlas dengan semua manusia, anggota PSHT diharapkan mampu menganggap bahwa semua manusia adalah saudaranya tanpa mengharap semua manusia juga menganggapnya saudara.

Jenis persaudaraan yang diajarkan di PSHT adalah :
“PASEDULURAN TUNGGAL BANYU”,
artinya utuh & menyatu.
Banyu atau air itu ibarat selalu menyatu dan tak terpisahkan, sekalipun dibelah oleh pedang, ia akan menyatu kembali.
Meminjam dlm istilah Jawa :
“Datan pinisah senadyan tinebas pedang ligan”
(Tak akan terbelah walau ditebas oleh pedang).

Jumat, 16 Desember 2016

Mengukur Kualitas Iman Kita

Iman adalah rasa percaya dan keyakinan hati terhadap wujud dan kebenaran (haq) serta eksisitensinya suatu Dzat yaitu Alah swt. Keimanan ini tidak hanya sebatas mempercayai dan menyakini adanya dzat Allah saja, tetapi mempercayai dan meyakini tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan keberadaan Allah itu sendiri.
Misalnya tentang keberadaan Malaikat, tentang firman-firman yang diturunkan melalui wahyu kepada para Rasul, yang sudah terhimpun dalam kitab, tentang para Rasul atau orang-orang yang diutus untuk menyampaikan firman-firman yang telah turun kepada sekelompok kaum, tentang kebenaran akan datangnya hari kiamat atau hari penghisaban, yang terakhir tentang ketentuan dan ketetapan Allah yang dinamakan takdir.

Iman ini sendiri terbagi menjadi lapisan-lapisan yang relatif tipis atau tebalnya antara satu orang dengan orang yang lain, tetapi secara garis besar lapisan atau tingkatan iman itu terbagi menjadi 3 (tiga) yaitu, Ilmul Yakin, ainul yakin dan haqqul yakin.

Ilmul Yakin adalah kesadaran untuk meyakini tentang segala sesuatu khususnya tentang ketauhidan Allah dan segala yang berkaitan dengan sifat-sifatNya melalui orang lain, misalnya guru di sekolah, kyai atau para ustadz bahkan mungkin orang-orang yang dekat dengan kita yang bersedia untuk memberikan masukan tentang berbagai hal. Khususnya mengenai ilmu agama.

Ainul Yakin adalah suatu keyakinan yang tidak hanya di dapat dari seseorang, tetapi keyakinan yang terbangun karena suatu pencarian tentang bukti-bukti keberadaan Allah dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kekuasaan dan kemutlakan mengenai hukum-hukum alam yang telah diciptakannya. Pada tahap ini seseorang akan melihat sendiri dan bahkan akan mengalaminya sendiri proses-proses dari pembuktian akan kebenaran yang awalnya hanya berupa informasi-informasi yang bersifat tekstual.
Haqqul Yakin adalah keyakinan yang mutlak dan tidak akan tergoyahkan dari seseorang yang merasa bahwa dirinya hanyalah bagian yang sangat kecil dari sesuatu yang sangat-sangat besar dan diluar kemampuan logika berpikir manusia. Disini bukan hanya mata yang bisa melihat tetapi ada keterlibatan hati yang sangat dominan dalam keyakinan akan dzat Allah. Inilah Iman dengan sebenar-benarnya Iman.
Pada tingkatan ini seorang hamba akan secara otomatis melakukan perintah-perintah dari Tuhannya tanpa ada rasa keterpaksaan. Pada tingkatan ini pula akan timbul rasa kebutuhan yang sangat besat dari seseorang pada Tuhannya dan ada rasa ketergantungan yang sangat kepadaNya. Sehingga menimbulkan efek untuk selalu bisa berinteraksi kapan saja dan dimana saja dia berada.

Ujung dari perilaku seseorang yang sampai pada tingkatan ini adalah rasa ikhlas akan tindakan dan tingkah lakunya. Semua yang di lakukan hanya karena Allah semata. Bukan karena yang lain yang hanya merupakan sesuatu yang di ciptakan. Yang tidak akan bisa mempunyai kekuatan yang paling lemah sekalipun tanpa adanya keterlibatan Tuhannya yaitu Allah swt.

Dari adanya tingkatan-tingkatan inilah seseorang yang mengatakan dirinya beriman masih belum bisa dikatakan sebagai seorang yang beriman dengan sebenar-benarnya Iman. Sehingga Allah perlu memperjelas memberikan informasi kepada kita,

QS. Al Anfaal : 2 – 3.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. 

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ 
(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

QS. An Naml : 3.
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
(yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.

QS. Al Ankabuut : 59.
الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
(yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya.

QS. Al Hujuraat : 15.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”

Iman yang sebenarnya adalah iman dengan amal shalih, yaitu Iman yang disertai dengan amal perbuatan seperti yang disebutkan di beberapa ayat dalam Al Qur`an. Amal perbuatan itu diantaranya adalah: yang mengerjakan shalat dengan ikhlas, yang menafkahkan hartanya yang telah di limpahkan kepadanya di jalan Allah yaitu memberikan kepada mereka yang berhak dan yang membutuhkan, yang bertawakal hanya kepada Allah, yang mampu bersabar meski dalam keadaan tertekan, yang begitu yakin akan kebenaran tentang kehidupan akhirat, yang jika di sebut nama Allah bergetar hatinya karena takut akan adzabnya, yang apabila di bacakan ayat-ayatnya imannya akan bertambah. Itulah orang yang beriman dengan sebenar-benarnya Iman, dan Allah menambahkan dalam satu Ayat,

QS. Al Anfaal : 4.
أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.

Banyak dari diri kita yang menyatakan beriman tapi sedikit dari kita yang selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas keimanannya. Sebagian besar dari kita adalah beriman di level yang pertama, karena sesungguhnyalah keimanan yang kita akui itu tak lebih dari sekedar hanya pengakuan atas wujudnya Allah dan kebenaran agama saja. Bahwa Allah itu wujud memang benar adanya. Bahwa beragama itu suatu kewajiban yang harus menempel pada identitas kita, yang jika kita melalaikannya akan berakibat fatal, kita akan dituding sebagai pengikut aliran terlarang, akan dituding sebagai pengikut kepercayaan tertentu yang bukan merupakan suatu agama yang “resmi” dan diakui oleh penguasa atau pemerintah. Sehingga banyak pula dari kita yang beragama tanpa mengetahui apa makna dari beragama itu sendiri.
Dalam “diri” agama itu sendiri tersusun dari beberapa tingkatan. Dalam Agama Islam sebenarnya tingkatan itu tersusun menjadi 3 (tiga) level. Tingkatan yang pertama adalah Iman, yang kedua Taqwa dan yang ke tiga Islam.
Mungkin bagi sebagian orang susunan itu rancu atau kacau karena sebagian orang menempatkan taqwa sebagai tujuan terakhir dari tujuan beragama. Muttaqin menjadi tolok ukur diterima atau tidaknya diri kita oleh Allah untuk kembali kepadaNya. Hal ini memang benar adanya dan jangan pernah pula untuk dipungkiri. Tapi kalau di cermati susunan tingkatan diatas juga bisa diterima sepenuhnya oleh akal atau nalar kita.
Kata “Islam” jika di cermati dari arti kata-nya bisa berarti “Tunduk” atau“berserah diri” . Berserah diri disini tentunya hanya berserah diri kepada Allah. Itulah agama tauhid yang di bawa oleh Rasulullah saw. Muttaqiin yang sebenarnya bisa pula di identikkan dengan orang-orang yang “aslam” yang berarti tunduk, menyerahkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah semata.
QS. Ali Imraan 83.
أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ﴿٨٣﴾
“Afaghaira diinillahi yabghuuna wa lahu aslama man fiissamaawaati wal ardhi thau`an wa karhaan wa ilaihi yurja`uuna”
”Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”.
Jika Islam di maknai sebagai penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah swt, memang harusnya berada di tingkatan akhir dari suatu proses beragama, tetapi jika “Islam” dimaknai sebagai suatu nama dari sebuah agama, maka makna Islam yang sebenarnya akan berada di balik bayang-bayang kebesaran agama Islam.
Kita semua mengetahui dan menyadari bahwa berapa banyak orang yang mengaku beragama Islam tetapi pengetahuan tentang Islamnya begitu minim sekali. Mending kalau masih disertai dengan kemauan belajar, kalau tidak ? Betapa menyedihkan sekali ! Kita hanya akan berada dipinggiran inti dari sebuah agama yang lurus yang terbungkus oleh tebalnya “ilmu”.
Inti agama tauhid yang terbungkus oleh dalam dan tebalnya ilmu bagaikan biji dalam buah semangka tanpa biji. “Biji” yang sepertinya tidak ada tetapi sebenarnya ada, dalam arti, inti dari sebuah proses ber-agama itu sebenarnya ada dan nyata, yaitu “Iman”. Tetapi tidak akan pernah kita temukan jika kita tidak pernah mengusahakannya.
“Iman” itu bisa diminta kepada Allah. Asal kita mau sedikit bersusah payah, niscaya Allah akan menurunkan sebuah “petunjuk” Nya. Nah “petunjuk” itulah yang akan kita gunakan untuk menelusuri “peta” inti dari sebuah pentingnya agama bagi kita.
Sebenarnya petunjuk itu sudah ada, yaitu Al Qur`an dan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang ada di alam semesta. Tetapi jika seseorang bersikat apatis terhadap Iman dan tauhid dia tidak akan pernah menghiraukan keduanya. Bahkan bersikap menjauhi keduanya. Sampai datangnya kesadaran spritual dalam qalbu atau hatinya. Pada saat datang kesadaran akan kebutuhan dan ketergantungan kepada Allah itulah seseorang akan mulai berpaling kepada “petunjuk” Allah tersebut.
Jika komitmennya kuat dan konsisten dalam memahaminya orang tersebut akan mendapat suatu pencerahan batin. Dimana akan timbul sikap untuk taat dalam menjalankan perintah-perintah agamanya.

QS. Al Isra: 36.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

Allah memberikan kan kita pendengaran, penglihatan dan hati tak lain karena Allah menginginkan manusia memahami keberadaan Allah dengan segala sifat-sifatnya melalui ketiganya. Jika tidak, Allah sudah mempersiapkan diri dan jiwa kita untuk berhadapan dengan hukum Allah di akhirat yang pedihnya jauh melebihi siksa di dunia.

Uraian di atas untuk mengulas sedikit dari tingkatan iman. Sekarang kita coba untuk mengetahui sedikit tentang tingkatan dalam “ber-agama”. Yang pertama adalah komitmen ber-agama, yang kedua adalah buah dari komitmen beragama yaitu Iman, yang ketiga adalah taqwa, hasil dari masuknya Iman ke dalam hati yang disertai dengan amalan atau perbuatan-perbuatan yang baik, yang merupakan perwujudan dari iman itu sendiri.

Jika kita bisa melalui ketiga fase atau tingkatan tersebut, maka kita akan sampai pada esensi beragama yaitu “Islam” atau “penyerahan diri” sepenuhnya hanya kepada Allah. Dan itu semua adalah buah dari jerih payah atau usaha pencarian makna hidup dari keber-agama-an kita.

Komitmen beragama tidak boleh berhenti hanya sebatas persaksian melalui ucapan dua kalimat syahadat. Komitmen ber-agama harus berefek pada ketebalan Iman. Dengan apa ? Tentunya dengan “Ilmu” . Ilmu itulah nanti yang akan memberikan kita pemahaman akan arti pentingnya seseorang harus berkomitmen untuk ber-agama. Hanya dengan pemahaman tentang ayat-ayat Allah saja seseorang bisa menemukan sebuah contoh kebenaran. Baik itu ayat-ayat yang ada dalam Al Qur`an yang disebut ayat qauliyah maupun ayat-ayat yang ada di alam yang biasa disebut ayat kauniyah.

Kedua ayat tersebut hendaknya dipahami secara bersamaan, karena salah satunya merupakan penjelasan atau bukti dari yang lain, yaitu ayat-ayat Al Qur`an. khususnya untuk ayat-ayat yang berkaitan dengan peristiwa alam. Misalnya bergantinya siang dan malam, tentang turunnya hujan, tentang tanaman yang berbuah, semua itu adalah bukti-bukti keberadaan dan kekuasaan Allah swt.

Iman yang semakin “menebal” dikarenakan pemahaman akan lebih kuat melekatnya dari pada iman yang hanya sekedar “katanya”. Karena iman yang di dapat dari pemahaman ini akan berefek pada pembentukan karakter diri dengan keinginan yang datangnya dari hati untuk segera merealisasi perwujudan dari pada iman itu sendiri. Yaitu berupa amalan atau pembiasaan diri dalam tingkah laku yang sesuai dengan tingkah laku Rasulullah yang telah memberi contoh atau teladan yang baik.
Pembiasaan diri dalam bertingkah laku yang baik berdasarkan iman ini akan berefek pada taqwa. Dimana kata “taat” akan secara perlahan namun pasti akan melekat pada dirinya. Pada kondisi ini seseorang tidak boleh berhenti untuk selalu melakukan eksplorasi terhadap ayat-ayat Allah untuk mengasah kemampuan dalam memahaminya. Ayat-ayat Allah tersebar di seantero jagat raya, yang jika kita gunakan seluruh umur kita untuk mencoba memahaminya tidak akan habis kalimat-kalimat Allah.

Pemahaman harus selalu bertambah, kehidupan beragama kita harus dinamis. Hari ini haruslah lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Iman haruslah selalu bertambah selaras dengan pemahaman. Jika tidak berarti kita termasuk dalam kelompok orang yang merugi karena menyia-nyiakan waktu. Dan kita semua tahu bahwa waktu tidak akan berjalan mundur. Waktu akan terus berlalu seiring dengan bergesernya bumi yang kita tempati. Dan umur manusia akan selalu berkurang dari waktu ke waktu, sampai tiba waktu ajal yang telah di tentukan.

Lantas bagaimanakah dengan orang yang beriman tetapi tidak beramal shalih ? Allah berfirman :
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

”Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

dijelaskan di ayat tersebut bahwa mereka yang “ber-iman” mereka itu sudah berpegangan kepada buhul tali Allah yang sangat kuat dan tidak akan pernah putus. Buhul tali atau simpul tali atau ikatan tali yang kuat, lebih memberikan penjelasan tentang “tali” yang merupakan kabel atau penghubung atau jalan yang menghubungkan seorang hamba kepada Tuhannya. Iman yang diumpamakan tali tersebut tidak lain karena Iman adalah modal atau merupakan modal dalam menjalani amal perbuatan selanjutnya.

Ibarat sebuah bangunan “Iman” adalah pondasi. Tanpa pondasi akan sia-sia keberadaan sebuah bangunan, bahkan kemungkinan besar akan mencelakan bagian-bagian lain dari bangunan itu sendiri. Tetapi pondasi yang kuat akan mempertahankan sebuah bangunan sampai semua bagian dari bangunan itu perlahan lapuk atau dimakan usia. Dan pondasi saja masih belum cukup untuk menjadikan diri kita bagai sebuah bangunan yang sempurna. Kesempurnaan diri dan jiwa kita bisa terbangun apabila kita bisa membangun Amalan yang baik di atas pondasi iman kita.

Di ayat lain Allah juga menegaskan kalau amal perbuatan yang tidak dilandasi oleh iman adalah sesuatu yang sia-sia. Iman menjadi sesuatu yang paling utama dalam hidup. Tanpa Iman otomatis kita termasuk dalam golongan orang-orang yang ingkar kepada Allah. Padahal segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit dan di antara keduanya ini hanyalah milik Allah. Maka menjadi masuk akal jika seseorang yang melakukan segala aktifitas perbuatan yang menurut dirinya paling baik sekalipun akan sia-sia karena tertolak dikarenakan ke-kafiran-an yang melekat pada dirinya.

QS. An Nuur : 39.
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ ۗ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ
”Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.”

QS. An Nuur : 40.
أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ
”Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.”

Untuk itulah kita harus “Istiqomah” dalam pemahaman tanda-tanda atau ayat-ayat Allah ini. Hingga semakin hari semakin bertambah Iman kita. Sejalan dengan berlalunya waktu semakin dekat pula ajal kita. Semakin dekat saatnya semakin kita kedinginan, tapi jika kita berjalan dengan berselimut “Iman”, jangan pernah khawatir dan merasa ketakutan. Sehingga nantinya kita bisa berharap untuk ditetapkannya mati dalam keadaan iman dan Islam.

Jika Iman sudah melekat pada diri dan hati kita secara alami kita akan berusaha untuk memenuhi segala efek dari Iman itu sendiri. Efek dari Iman adalah memenuhi segala yang di perintahkan oleh Allah swt. berupa amalan-amalan yang baik. Amalan-amalan yang baik inilah yang nantinya akan menjadi saksi perbuatan kita selama hidup dalam ke-Iman-an. Dan Iman dan amalan yang baik inilah yang nantinya akan memasukkan diri kita ke dalam golongan orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang di kehendaki oleh surganya Allah swt.

Dan mudah-mudahan pula Allah akan memasukkan mereka yang “istiqamah” dalam pemahaman ketauhidan kedalam golongan orang-orang yang bertaqwa yang berbalut kain “keikhlasan”. Dan akan berakhir dengan keridhaan Allah dalam menerima kembalinya diri dan jiwa kita kepadaNya.

Kamis, 15 Desember 2016

DEFINISI KEIMANAN

Salah satu definisi iman adalah diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan. Adakah pertanyaan dalam diri kita, seberapa besarkah kadar keimanan yang kita miliki? dan terlebih lagi ada satu pertanyaan mendasar bahwa dapatkah keimanan itu diukur (dalam hal ini mengukur keimanan diri sendiri ataupun keimanan orang lain)? Bagaimana kita mengetahui kadar keimanan kita, sedangkan keimanan itu dapat diukur atau tidaknya saja kita tidak mengetahuinya.

Perbedaan pendapat dalam berbagai hal adalah hal yang biasa. Termasuk berbedaan pendapat dalam hal untuk menjawab pertanyaan apakah keimanan itu dapat diukur.

Beberapa di antara kita tentunya ada yang berpendapat bahwa tidaklah mungkin keimanan itu dapat diukur. Bentuk keimanan itu seperti apa saja kita tidak mengetahuinya, lantas bagaimana kita dapat mengukurnya?. Keimanan itu merupakan urusan antara makhluk dengan Tuhannya dan hanya merekalah yang mengetahuinya, sehingga bagaimana mungkin seseorang bisa mengukur kadar keimanan orang lain. Mengukur keimanan diri sendiri saja terkadang kita tidak bisa.

Pengukuran keimanan mungkin tidak dapat diterapkan secara keseluruhan. Kita hanya dapat mengukur keimanan ‘yang nampak’ dalam diri seseorang. Mungkin hanya sebagian kecil saja yang dapat kita ukur. Keimanan ‘yang nampak’?. Bisa saja kan seseorang memanipulasi keimanan ‘yang nampak’ itu agar dapat dikategorikan sebagai orang yang memiliki kadar keimanan ‘bagus’. Hal ini memang dapat atau bahkan sering terjadi disekitar kita. Berpura-pura rajin dalam beribadah hanya ingin dinilai sebagai orang yang memiliki kadar keimanan yang tinggi. Mungkin orang yang memiliki ‘kategori tersebut’ sering kita temukan disekitar kita.

Kita mungkin tidak dapat "meng-angkakan" berapa kadar keimanan kita, tetapi kita dapat menilai seberapa kadar keimanan kita.
Lalu apa jawaban dari pertanyaan diatas? dapatkah keimanan itu diukur?.

Kedua pendapat di atas adalah benar bahwa ada beberapa aspek keimanan yang tidak dapat diukur. Kita mungkin tidak dapat mengukur beberapa aspek keimanan di luar batas kemampuan kita. Di mana yang dapat mengetahui seberapa besar kadar aspek keimanan tersebut hanya kita dan Allah yang mengetahuinya, atau bahkan hanya Allah yang mengetahui. Tetapi kita juga tidak dapat menolak pendapat yang kedua bahwa keimanan itu dapat diukur. Tentunya tidak semua aspek keimanan itu dapat diukur, atau bahkan mungkin hanya sedikit aspek keimanan yang dapat diukur. Kita tidak dapat mengukur keimanan apabila aspek tersebut adalah urusan antara seseorang dengan Allah, dimana hanya orang tersebut dan Allah yang mengetahuinya.

Dalam Al-qur’an surat Al-Mumtahanah ayat 10 Allah berfiman:
Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Allah memberikan hak kepada manusia untuk mengukur kadar keimanan seseorang, tetapi masalah apakah ‘keakuratan’ dari hasil pengukuran kita mengenai benar tidaknya kadar keimanan yang dimiliki seseorang adalah urusan Allah.
Allah lah yang lebih mengetahui kadar keimanan seseorang dan mengetahui segala hal.
Wallahu a'lam...

Semoga bermanfaat