Falsafah PSHT

Manusia dapat dihancurkan, Manusia dapat dimatikan,
tetapi manusia tidak dapat dikalahkan selama manusia itu
masih Setia kepada dirinya sendiri atau ber-SH pada dirinya sendiri

Selasa, 19 April 2016

MENGENAL DAN MENGETAHUI FILOSOFI NASI TUMPENG/BUCENG




Tumpeng merupakan sajian nasi kerucut dengan aneka lauk pauk yang ditempatkan dalam tampah (nampan besar, bulat, dari anyaman bambu). Tumpeng merupakan tradisi sajian yang digunakan dalam upacara, baik yang sifatnya kesedihan maupun gembira.
Tumpeng dalam ritual Jawa jenisnya ada bermacam-macam, antara lain : tumpeng sangga langit, Arga Dumilah, Tumpeng Megono dan Tumpeng Robyong
Tumpeng sarat dengan simbol mengenai ajaran makna hidup. Tumpeng Robyong sering dipakai sebagai sarana upacara Slametan (Tasyakuran). Tumpeng Robyong merupakan simbol keselamatan, kesuburan dan kesejahteraan.

Tumpeng yang menyerupai Gunung menggambarkan kemakmuran sejati. Air yang mengalir dari gunung akan menghidupi tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan yang dibentuk Robyong disebut semi atau semen, yang berarti hidup dan tumbuh berkembang.
Pada jaman dahulu, tumpeng selalu disajikan dari nasi putih. Nasi putih dan lauk-pauk dalam tumpeng juga mempunyai arti simbolik.

Nasi putih
Berbentuk gunungan atau kerucut yang melambangkan tangan merapat menyembah kepada Tuhan. Juga, nasi putih melambangkan segala sesuatu yang kita makan, menjadi darah dan daging haruslah dipilih dari sumber yang bersih atau halal.
Bentuk gunungan ini juga bisa diartikan sebagai harapan agar kesejahteraan hidup kita pun semakin “naik” dan “tinggi”.

Ayam: ayam jago (jantan)
Dimasak utuh dengan bumbu kuning/kunir dan diberi areh (kaldu santan yang kental), merupakan simbol menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge”reh” rasa).
Menyembelih ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk yang dilambangkan oleh ayam jago, antara lain: sombong, congkak, kalau berbicara selalu menyela dan merasa tahu/menang/benar sendiri (berkokok), tidak setia dan tidak perhatian kepada anak istri.

Ikan Lele
Dahulu lauk ikan yang digunakan adalah ikan lele bukan bandeng atau gurami atau lainnya. Ikan lele tahan hidup di air yang tidak mengalir dan di dasar sungai. Hal tersebut merupakan simbol ketabahan, keuletan dalam hidup dan sanggup hidup dalam situasi ekonomi yang paling bawah sekalipun.

Ikan Teri / Gereh Pethek
Ikan teri/gereh pethek dapat digoreng dengan tepung atau tanpa tepung. Ikan Teri dan Ikan Pethek hidup di laut dan selalu bergerombol yang menyimbolkan kebersamaan dan kerukunan.

Telur
Telur direbus pindang, bukan didadar atau mata sapi, dan disajikan utuh dengan kulitnya, jadi tidak dipotong, sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu.
Hal tersebut melambangkan bahwa semua tindakan kita harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi hasilnya demi kesempurnaan.
Piwulang jawa mengajarkan “Tata, Titi, Titis dan Tatas”, yang berarti etos kerja yang baik adalah kerja yang terencana, teliti, tepat perhitungan, dan diselesaikan dengan tuntas.
Telur juga melambangkan manusia diciptakan Tuhan dengan derajat (fitrah) yang sama, yang membedakan hanyalah ketaqwaan dan tingkah lakunya.

Sayuran dan Urab-uraban
Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap. Sayuran-sayuran tersebut juga mengandung simbol-simbol antara lain:
  1. Kangkung berarti jinangkung yang berarti melindung, tercapai.
  2. Bayam (bayem) berarti ayem tentrem,
  3. Taoge/cambah yang berarti tumbuh,
  4. Kacang panjang berarti pemikiran yang jauh ke depan/inovatif,
  5. Brambang (bawang merah) yang melambangkan mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang baik buruknya,
  6. Cabe merah di ujung tumpeng merupakan symbol dilah/api yang memberikan penerangan/tauladan yang bermanfaat bagi orang lain.
  7. Kluwih berarti linuwih atau mempunyai kelebihan dibanding lainnya.
  8. Bumbu urap berarti urip/hidup atau mampu menghidupi (menafkahi) keluarga.

Pada jaman dahulu, sesepuh yang memimpin do'a selamatan biasanya akan menguraikan terlebih dahulu makna yang terkandung dalam sajian tumpeng. Dengan demikian para hadirin yang datang tahu akan makna tumpeng dan memperoleh wedaran yang berupa ajaran hidup serta nasehat.
Dalam selamatan, nasi tumpeng kemudian dipotong dan diserahkan untuk orang tua atau yang “dituakan” sebagai penghormatan.
Setelah itu, nasi tumpeng disantap bersama-sama. Upacara potong tumpeng ini melambangkan rasa syukur kepada Tuhan dan sekaligus ungkapan atau ajaran hidup mengenai kebersamaan dan kerukunan.
Ada sesanti jawi yang tidak asing bagi kita yaitu: "Mangan ora mangan waton kumpul (makan tidak makan yang penting kumpul)." Hal ini tidak berarti meski serba kekurangan yang penting tetap berkumpul dengan sanak saudara.
Pengertian sesanti tersebut yang seharusnya adalah mengutamakan semangat kebersamaan dalam rumah tangga, perlindungan orang tua terhadap anak-anaknya, dan kecintaan kepada keluarga.
Di mana pun orang berada, meski harus merantau, haruslah tetap mengingat kepada keluarganya dan menjaga tali silaturrahim dengan sanak saudaranya.


Filosofi Tumpeng dalam Persaudaraan Setia Hati Terate 
Tumpeng atau dengan sebutan lain Buceng adalah nasi beserta lauk-pauknya dengan menyerupai kerucut atau gunungan yang digunakan sebagai sajian dan atau persembahan pada dan atau untuk acara tertentu dalam adat masyarakat (Jawa, Madura, Sunda atau bahkan Indonesia secara umum). Penyajian ini lazim disebut/dibuat untuk kenduri dan atau perayaan/ritual suatu kejadian, waktu dan atau tujuan tertentu sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tumpeng biasa disajikan di atas tampah (wadah bundar tradisional dari anyaman bambu) dan dialasi daun pisang.

Dalam perkembangannya tumpeng telah menjadi budaya dalam masyarakat Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan sejak manusia belum lahir, kelahiran, kehidupan sehari-hari dan bahkan sampai setelah kematiannya sekalipun, bukan hanya sebagai manusia secara pribadi tetapi juga secara komunal maupun institusi.

Lauk Pauk dalam Tumpeng
Tidak ada lauk-pauk baku untuk menyertai nasi tumpeng. Namun, beberapa lauk yang biasa menyertai adalah perkedel, abon, kedelai goreng, telur dadar/telur goreng, timun yang dipotong melintang, dan daun seledri. Variasinya melibatkan tempe kering, serundeng, urap kacang panjang, ikan asin atau lele goreng, dan sebagainya. Dalam pengartian makna tradisional tumpeng, dianjurkan bahwa lauk-pauk yang digunakan terdiri dari hewan darat (ayam atau sapi), hewan laut (ikan lele, ikan bandeng atau rempeyek teri) dan sayur-mayur (kangkung, bayam atau kacang panjang). Setiap lauk ini memiliki pengertian tradisional dalam budaya Jawa dan Bali.

Ragam dan Macam Tumpeng
Ragam dan Macam Tumpeng sangat tergantung kepada Sosial, Budaya, Komunitas serta Tujuan pembuatan Tumpeng sehingga Ragam, Macam dan Penamaan Tumpeng berkembang sesuai dengan perkembangan Sosial, Budaya, Komunitas dan Tujuan dari pembuatan Tumpeng itu sendiri.

Berikut adalah beberapa Ragam, Macam dan Nama Tumpeng yang dikenal dalam masyarakat Umum:
Tumpeng Robyong, Tumpeng Nujuh Bulan, Tumpeng Pungkur, Tumpeng Putih, Tumpeng Nasi Kuning, Tumpeng Nasi Uduk, Tumpeng manik,  Tumpeng Utup-Utup, Tumpeng Grontol, Tumpeng Candi Murup, Tumpeng Ketan Oran, Tumpeng Kendit, Tumpeng Besengek, Tumpeng Candi Sewu, Tumpeng Klambi Mas.

Tumpeng dan Filosofinya dalam Persaudaraan Setia Hati Terate
Dalam berbagai acara dan ritual, Persaudaraan Setia Hati Terate juga menggunakan Tumpeng sebagai sajian dan hidangan bagi yang turut dan dalam menghadiri kegiatan-kegiatan SH Terate sebagai bagian dari dan untuk Uri-uri (melestarikan) budaya bangsa.  

Senin, 18 April 2016

Mengapa Arah Putaran Thawaf Berlawanan Dengan Arah Jarum Jam, Hikmah Thawaf dan Makna 7 Putaran mengelilingi Ka'bah

 Rahasia Thawaf

Ibadah haji maupun umroh merupakan ibadah fisik, namun demikian banyak makna kebaikan yang tersirat maupun yang tersurat yang bisa kita ambil dalam pelaksanaan ibadah ini. Sungguh sangat disayangkan apabila kita tidak mampu mengambil hikmah dan pelajaran dalam setiap prosesi ritual yang ada di dalam rukun-rukun pelaksanaannya. Hanya lelah saja yang akan didapatkan dan kesia-siaan. Itulah mengapa Rasulullah SAW pernah mengatakan dalam sabdanya yang terkenal…

“Haji yang mabrur tiada lain balasan yang akan diperolehnya melainkan syurga.”

Di antara rukun-rukun ibadah haji, thawaf merupakan rukun yang tidak mudah ditangkap simbolisme yang terkandung di dalamnya. Bergerak mengelilingi Ka’bah tujuh kali, memiliki makna yang sangat dalam bagi hidup dan kehidupan setiap manusia dalam totalitas dimensinya, bukan hanya dalam konteks ritual atau kepentingan akhirat semata.

Thawaf artinya mengitari/mengelilingi. Maksudnya mengelilingi Ka'bah, baik yang berkaitan dengan Haji dan Umroh maupun yang tidak berkaitan dengan haji dan Umroh (Thawaf Sunah). Firman Allah Swt:
ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ
"Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran[987] yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka[988] dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). (QS. Al Hajj: 29)

[987] Yang dimaksud dengan menghilangkan kotoran di sini ialah memotong rambut, mengerat kuku, dan sebagainya.
[988] Yang dimaksud dengan Nazar di sini ialah nazar-nazar yang baik yang akan dilakukan selama ibadah haji.

Thawaf, mengandung makna bahwa gerak hidup setiap manusia, bukanlah sekedar untuk hidup itu sendiri, melainkan segala gerak hidup itu terjadi dan menuju kepada Allah SWT. Allah SWT sebagai pusat pusaran gerak manusia, sebagai pusat orbit gerakan kehidupan manusia.

Secara singkat, simbolisasi dari thawaf berdasarkan pemaknaan di atas adalah bahwa setiap manusia harus memiliki kesadaran yang kuat mengenai pemahaman yang benar dan lurus dari mana kehidupan ini berasal dan ke mana akan menuju, yaitu dari dan menuju Allah. Thawaf adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran dimulai dan diakhiri dari Rukun Hajar Aswad, sedangkan Ka’bah berada di sebelah kiri. Ka’bah adalah pusat/kiblat ibadah umat islam. Disinilah, di baitullah ini kita menjadi tamu Allah SWT.




Putaran thawaf sebanyak 7 kali merefleksikan rotasi bumi terhadap matahari yang menandai putaran terjadinya kisaran waktu, siang dan malam, yang menunjukkan waktu, hari, bulan dan tahun. Subhanallah,,, inilah kebesaran Allah SWT, semuanya bukanlah terjadi secara kebetulan, tetapi sudah menjadi sunnatullah.
Thawaf melambangkan nilai-nilai Tauhid. Dalam thawaf manusia diarahkan agar selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mendekatkan diri kepada Allah SWT bukan hanya satu kali saja, tetapi berulang kali dan setiap waktu dalam kehidupan, sebagaimana dilambangkan dalam ibadah thawaf yang dilakukan tujuh kali putaran. Ini melambangkan agar manusia selalu mendekatkan diri kepada Allah selama tujuh hari dalam seminggu, bermakna manusia harus dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT setiap saat dan setiap hari dalam kehidupannya.

Thawaf tersebut dilakukan dengan penuh penghayatan akan kehadiran Allah SWT, berzikir, berdo'a dan memohon ampun kepada-Nya. Ini melambangkan agar setiap manusia harus selalu beribadah kepada Allah SWT dengan merasakan kehadiran-Nya dalam setiap hari, mengingat kepada-Nya, berzikir, berdo'a dan memohon ampun kepada-Nya.

Tidak ada hari yang lepas daripada ibadah, zikir, berdo'a dan memohon ampun. Inilah kehidupan beribadah seorang muslim. Maksud thawaf ini sesuai dengan lafadz do'a iftitah yang dilakukan dalam shalat:
“Inna sholaati wa nusukiy wamahyaaya wa mamaatiy lillahi robbil 'alamiin“, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah untuk Allah SWT, Tuhan seluruh alam “.

Dalam thawaf, kita diwajibkan untuk mengucup batu hitam “Hajar Aswad” atau dengan cara memberi isyarat lambaian tangan (istislam) kepadanya, sebagaimana yang dilakukan oleh baginda Rasulullah SAW. Ini bermakna dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT, umat Islam harus mengikuti sunnah dan contoh yang dilakukan oleh baginda Rasulullah SAW.

Mengucup batu hitam tersebut juga merupakan lambang bahwa ibadah harus dilakukan dengan penuh kecintaan kepada Allah SWT. Ibadah dilakukan bukan untuk tujuan dunia, bukan tujuan sementara tetapi hanya dengan tujuan mengharapkan keridhaan Allah SWT dengan penuh rasa cinta kepada-Nya.

Thawaf adalah Wujud Ketaatan Seorang Hamba
Coba kita perhatikan, setiap benda tersusun dari atom. Termasuk tubuh kita. Atom terdiri atas sebuah inti atom dan beberapa elektron. Seluruh elektron di dalam atom bergerak mengelilingi inti atom persis seperti thawaf mengelilingi Ka’bah!, Subahanallah! Jagad raya (makro cosmos) juga semua berthawaf mengelilingi pusatnya masing-masing. Bulan berthawaf mengelilingi bumi. Bumi berthawaf mengelilngi matahari. Matahari berthawaf mengelilingi pusat galaksi. Subhanallah! Semua makhluk yang ada di jagad raya ini berthawaf (taat) kepada Allah SWT. Ini adalah sunnatullah yang telah diatur oleh-Nya.

Karena itu, saat anda melaksanakan thawaf, tekadkan dalam hati anda bahwa anda sedang dan akan terus melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Jika ini dilakukan, insyaAllah ritual rukun ibadah haji ini akan mengantarkan anda menjadi haji mabrur sehingga akan memberikan pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan anda.


Manusia dan Jagad Raya Berthawaf Mengikuti Sunnatullah
Dalam pelaksanaannya, thawaf dilakukan dengan cara mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran, berjalan memutar berlawanan dengan arah jarum jam, mulai dari Hajar Aswad, sementara posisi Ka’bah berada disisi kiri. Pertanyaan yang mungkin muncul dalam benak anda mengapa thawaf dilakukan dengan berjalan kekiri? Berlawanan dengan arah jarum jam? Mengapa posisi Ka’bah di sebelah kiri orang-orang yang berthawaf? Apa makna dan hikmah yang terkandung dari semua itu?
Baiklah, untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya saya ajak anda untuk memperhatikan fakta yang terjadi di alam raya ini. Planet-planet termasuk matahari, berjalan pada rotasinya dengan berputar dari kanan ke kiri, terbalik dengan arah jarum jam. Bahkan, galaksi Bimasakti pun berjalan dari kanan ke kiri, elektron-elektron juga demikian.

Mari kita perhatikan juga fakta ilmiah yang terjadi di dalam tubuh kita, darah bersirkulasi dari jantung ke seluruh tubuh dari arah kanan ke kiri. Jadi, alam raya seakan melakukan thawaf kepada Penciptanya. Thawaf adalah gerakan dan perputaran yang merupakan sunnatullah yang berlaku di alam raya ini. Seluruh alam berthawaf dan bertasbih kepada Sang Pencipta, kemudian hal itu disebut gerak atau rotasi, itulah thawaf.

Allah SWT berfirman :

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun". (QS. Al Isra: 44)

Kita manusia dan bumi yang kita diami ini hanyalah satu bagian dari milyaran galaksi, semua itu ada di langit dunia. Allah SWT berfirman :
وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (kami), dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.” (QS. Adz-Dzariyat: 47)

Semua langit berhubungan dengan langit sesudahnya seperti lingkaran di padang pasir. Begitu seterusnya sampai langit ketujuh. Setiap bintang dan planet memiliki galaksi dan rotasi ke arah kiri. Semua tidak pernah melampaui garis edarnya dalam berputar. Jarak antara bintang-bintang dan planet- planet sangat jauh.

Jarak antara bumi dan matahari sekitar 386 juta kilometer. Sedangkan jarak bulan dan bumi sekitar 150 juta kilometer. Jarak yang jauh ini tidak seberapa dibandingkan jarak yang ada di alam raya ini. Jarak antara satu bintang dan bintang yang lain diperkirakan sekitar empat tahun perjalanan cahaya. Sementara kecepatan cahaya adalah 360.000 kilometer/detik.

Jika difikirkan, dengan thawaf seorang muslim berarti mengikuti irama alam semesta dan mengikuti malaikat yang thawaf di Baitul Ma’mur di langit ketujuh. Bisa jadi thawaf yang mengindikasikan perputaran waktu ini merupakan isyarat bagi jama’ah haji agar mengatur segala urusannya dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyia-nyiakan waktu dengan tidak melepaskan diri sedetik pun dari pusat orbit kita yaitu Allah SWT.

Pandanglah bumi ini. Kita akan menyadari posisi kita dan akhirnya menyadari betapa kecilnya diri kita. Lihatlah planet dan galaksi, semua tampak begitu besar dan luas. Orang-orang yang berakal pasti akan berkata, “Bumi ini hanyalah noktah yang berenang di angkasa.” Ia pastilah akan berkata didalam hatinya “Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam. Tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia.”

Seharusnya, semua itu dapat mendorong kita untuk tunduk dan merendahkan diri kepada Allah SWT. Seluruh alam semesta berthawaf menyembah Allah SWT dan kita bergerak bersamanya. Alam semesta pun tunduk kepada-Nya. Dalam thawaf kita mengikuti alam semesta menghadap Allah SWT. Kita berputar mengikuti aturan-Nya dalam irama sunnatullah. Kita seharusnya juga berusaha mengikuti iramanya di bumi ini agar tidak terjadi ketimpangan di alam semesta dan lebih khusus lagi ketimpangan dalam perjalanan hidup kita.

Dengan melakukan thawaf, kita harus dapat bertanya kepada diri sendiri sudahkah seluruh aktivitas kehidupan kita dalam tujuh hari mengikuti irama sunnatullah ini sebagai wujud ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT? Jika belum, segeralah kembali kepada irama maha besar ini, agar hidup kita seimbang dan tidak berantakan.

Sebagaimana thawaf yang dilakukan sebanyak tujuh kali ini. Sudahkah kita dapat mendekatkan diri dan berzikir kepadaNya dengan penuh kecintaan dan mengharapkan keridhaan-Nya? Apakah pelaksanan aktivitas kehidupan dan ibadah yang kita lakukan selama ini masih disertai dengan riya’, dan tujuan mencari kesenangan dunia yang semu dan sementara?



Sudahkan hidup kita seluruhnya merupakan wujud daripada ibadah kepada Allah SWT atau hanya untuk mencari kepuasan dunia dan hawa nafsu semata? Apakah kerja yang kita lakukan, segala aktivitas yang kita laksanakan dalam kehidupan ini bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT ataukah tujuan yang lainnya? Segeralah renungkan pertanyaan-pertanyaan penting ini.

Seorang pemikir Islam dari Pakistan, Muhammad Iqbal dalam syairnya berkata :

“Rahasia Ka’bah adalah persatuan. Karena seluruh manusia menyatu dalam putaran. Untuk mengabdi dan menyembah Tuhan. Sebab agama hanya akan menjelma dalam dua cara, yaitu penyerahan diri dalam beribadah dengan menghayati kebesaran Tuhan di setiap saat “.

Mari kita renungkan Firman Allah SWT berikut ini:
Allah SWT berfirman:

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ (٣٩) لا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ (٤٠)٠
"Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua (Maksudnya: bulan-bulan itu pada Awal bulan, kecil berbentuk sabit, kemudian sesudah menempati manzilah-manzilah, Dia menjadi purnama, kemudian pada manzilah terakhir kelihatan seperti tandan kering yang melengkung)" (39).
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya" (40). (QS Yaasin ayat 39-40)

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٩١) رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (١٩٢)
"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka" (QS. Ali Imran: 191).

"Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, Maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolong pun" (QS. Ali Imran:192).

Maha Benar Allah SWT dengan segala firman-Nya. Semoga kita dapat menghayati dan mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari prosesi thawaf yang dilakukan dalam ibadah haji maupun umroh ini agar kita selalu dekat dengan Allah SWT sebagai pusat orbit kita, sehingga kehidupan kita bisa seimbang sesuai dengan irama sunnatullah jagad raya ini.
Aamiin Yaa Mujiibassailiin.


Semoga bermanfa'at
Salam Persaudaraan

Kamis, 14 April 2016

Ilmu Karang dalam perspektif ilmu Setia Hati

Ilmu Setia Hati "Terate" adalah ilmu yang mengajarkan kesetiaan pada hati sanubari sendiri, mendidik manusia berbudi luhur tahu benar dan salah dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ilmu ini bersifat pengetahuan dan pemahaman kerohanian yang membentuk watak dan kepribadian yang baik dan unggul budi pekertinya atau sehat secara rohani, termasuk di dalamnya adalah Persaudaraan antar saudara Setia Hati "Terate"

Untuk menampung pribadi yang sehat secara Rohani, dalam setia hati diajarkan olahraga beladiri pencak silat (senam, jurus dan teknik lain) untuk membentuk dan membangun Jasmani yang sehat, sesuai teori umum bahwa dalam Jasmani (Tubuh) yang sehat akan terdapat Rohani (Jiwa, Spirit) yang sehat, termasuk di dalamnya adalah ilmu Pernafasan.

Perpaduan Jiwa (Rohani) yang sehat (waras) dengan Jasmani (tubuh) yang sehat (kuat) itulah yang membentuk seseorang menjadi pribadi (manusia) yang kuat secara lahir (fisik)  dan batin (rohani, spiritual). Sehingga seorang insan Setia Hati "terate" tidak memerlukan ilmu apapun untuk bisa menghadapi atau melawan kekuatan supranatural lain apapun di luar kekuatan Allah SWT (Tuhan Yang Maha Esa). Karena hanya kekuatan supranatural yang dimiliki oleh Tuhan yang bisa mengalahkan seorang insan Setia Hati. Tidak ada kekuatan (kekuasaan)  apa pun di atas manusia "SH" kecuali kekuatan (kekuasaan) Allah SWT (Tuhan Yang Maha Esa). Dalam semboyan-semboyan pendekar Setia Hati Terate sering disebutkan Sakti tanpo Aji, Ngluruk tanpo Bolo, Menang tanpo Ngasorake. Soero Diro Joyodiningrat lebur dining Pangastuti.

Dalam Setia Hati "Terate" dikenal adanya ajaran atau ilmu yang bukan merupakan ilmu atau ajaran setia hati "terate" tetapi berkembang di sebagian Warga Persaudaraan Setia Hati Terate. Ajaran atau ilmu tersebut dinamakan Ilmu Karang. Di luar Persaudaraan Setia Hati Terate, Ilmu Karang dikenal dengan ilmu kesaktian, ilmu kanuragan, ilmu kebal dan lain-lain yang diperoleh dengan cara tidak melakukan olah fisik (olah raga, termasuk pernafasan) maupun membangun rohani, tetapi dengan bantuan amalan-amalan tertentu, benda-benda tertentu atau pun mahkluk tertentu.

Dari gambaran tersebut maka Ilmu Karang dapat difahami sebagai ajaran atau ilmu yang dipelajari dan diamalkan untuk memperoleh kekuatan supranatural (gaib, kebal, pengasihan, penyembuhan, dll) dengan cara bantuan amalan (mantra, ajian), benda (jimat) dan makhluk tertentu (kodam, arwah, hewan).

Ilmu karang bukan merupakan ilmu Setia Hati Terate walapun banyak berkembang di kalangan saudara Setia Hati Terate, karena memang ilmu ini tidak dilarang dan juga tidak dianjurkan dalam Setia Hati Terate, tergantung pada kepercayaan dan keyakinan masing-masing. 
Wallahu A'lam,,,,
Semoga Bermanfaat 

Salam Persaudaraan
PSHT Rayon Pandansari

Senin, 11 April 2016

Bahaya Mangro Tingal Menurut Kangmas Madji


Mangro tingal artinya bersikap mendua, berkeyakinan ganda atau berkepala dua. Sanepan dalam bahasa Jawanya “mbang cindhe mbang ciladan”. Kata lebih keras dan tajam untuk menuding sikap ini adalah munafik.

Mangro tingal adalah sikap yang tidak terpuji. Sebab sikap ini akan membuat seseorang menjadi tidak punya prinsip yang tetap dan selalu berubah ubah. Biasanya, cenderung mencari enaknya. Pokok lebih enak dan menguntungkan, itu yang dipegang. Sisi lain yang dirasa tidak enak, dibuang, disingkirkan.

Dampak mangro tingal akan menjadikan seseorang pada nilai-nilai keluhuran budi, tidak memiliki jiwa ksatria dan jauh dari kesetiaan. Sikap ini akan membahayakan diri sendiri dan kelompoknya.
Karena seseorang yang mangro tingal, ia akan dengan mudah cidra janji (ingkar janji). Sebab dalam jiwanya tumbuh pohon kemunafikan. Dan salah satu sifat seorang yang munafik, jika dipercaya dia akan berkhianat.

Sadar akan kelemahan dan bahaya tersembunyi dari sikap mangro tingal ini, SH Terate menempatkan mangro tingal sebagai salah satu klausul pelanggaran pepacuh. Bahkan, SH Terate menempatkan warga yang terbukti mangro tingal pada posisi cidra janji (ingkar janji). Sebab, SH Terate mengajarkan nilai nilai ke-setia hati-an dan keluhuran budi. Sikap mangro tingal, sangat bertentangan dengan nilai-nilai kesetiaan (ke-setia hati-an) dan keluhuran budi.

Sumber: Lawupos (dikutip dari Buku Sejarah SH Terate & Persaudaraan Sejati/Penyunting: Andi Casiyem Sudin)